Senin, 01 Agustus 2011

prakash kami, prakash kami

hari sebelumnya, aku tidak merasakan akan ada yang salah. hari itu hanya hari biasa, bahkan walau puasa pertama, aku tidak terlalu lemas saat menjalankannya.

maka dari itu, aku serasa sedang dibohongi, atau dalam mimpi saat busu lina (tante lina)-ku menelfon dan mengatakan prakash dwi pedi, sepupuku meninggal.

prakash adalah cucu laki-laki pertama dari datuk dan nenekku. kakaknya, dini ayu lestari yang biasa dipanggil kak ai, adalah cucu perempuan pertama. prakash lebih muda 4 bulan dariku. aku lahir pada bulan desember '94 sedangkan ia pada bulan april '95. prakash seingatku, adalah seorang anak laki-laki yang selalu gembira. ia menundukkan kepala hanya saat dimarahi atau dinasehati keluarganya.

prakash adalah tipikal anak korban broken home. orang tuanya bercerai karena ibu kandungnya pergi bersama laki-laki lain. ayahnya menikah lagi. menurut ibuku dan busu lina, prakash dulu adalah anak yang manja, anak yang baik dan tampan. mungkin karena krisis yang terjadi dalam keluarganya ia berubah.

menurutku kak ai sudah cukup besar untuk mengerti. cukup besar untuk bersabar dan tetap berada 'dijalannya' walau mengalami hal yang sama dengan praksah. tapi prakash mungkin saja belum mengerti, apalagi dulu ia sangat dimanja oleh ibunya. mungkin ia tersesat dan tidak menemukan jalan keluar saat ia harus ditinggal oleh salah satu orang yang sangat ia sayangi.

saat diperjalanan menuju dendang, sabak tempat prakash akan dimakamkan aku terus berpikir tentang prakash. mencoba menemukan ingatan-ingatan tentang prakash. aku, kak ai, prakash dan adikku dulu sangat dekat. mungkin karena umur kami dekat.

aku ingat dulu prakash adalah ranger hitam dalam permainan power ranger kami. aku ranger merah muda, kak ai kuning sedangkan adikku merah. aku ingat tidak seperti aku dan kak ai yang tidak pernah bertengkar, adikku dan prakash tidak pernah tidak bertengkar dalam satu hari. aku ingat senyum prakash yang polos, yang membuatku lupa bagaimana ia berbeda dariku, bahwa ia punya masalah yang lebih gawat dari anak kebanyakan seperti aku. aku ingat matanya yang selalu setengah terbuka saat ia tertidur. aku juga ingat ia mendengkur dalam tidurnya.

prakash kami, prakash kami, prakash kami yang malang. itu kuulang saat berada di dalam mobil.

mereka bilang ia kecelakaan. berboncengan bersama temannya dengan motor beat warna merah. prakash duduk di belakang. mereka sepertinya ngebut dan tidak melihat sebuah truk di pinggir jalan yang sedang di parkir dan menabraknya sangat keras. temannya langsung meninggal di tempat, sedangkan prakash sempat diangkut ke rumah sakit.

kakakku bercerita bagaimana kakinya lemas melihat parometer jantungnya yang mulai melemah.

ketika aku masuk ke dalam ruangan itu, ruangan dimana prakash terbaring ditutupi kain hitam dengan wajah pucat, rasanya ini mimpi.

ibuku menangis di sampingnya. adikku terisak di sebelah pak lung (ayah prakash). busu lina juga menangis. tante hikmah pun menangis. mak lung (ibu tiri prakash) menangis. dan aku lihat kak ai membacakan yasin sendirian pada saat itu, air matanya mengalir sangat deras.

aku menatap prakash lagi. prakash kami yang malang. yang matanya masih terbuka sebagian. yang wajahnya pucat. yang dadanya tidak naik turun. yang nafasnya tidak terdengar. prakash kami. walau sudah menyentuh pipinya yang kaku pun aku masih merasa ini mimpi.

kami hanya sebentar disitu. setelah shalat subuh kami pulang karena para orang dewasa perlu bekerja. di perjalanan pulang aku berpikir lagi.

prakash kami selama ini hanya ingin perhatian, karena itu ia berbuat nakal. karena itu ia terus membuat keributan. karena ia tersesat, ia sedang mencoba meminta perhatian, agar ia ditemukan, agar ia bisa diselamatkan, agar ia bisa menemukan jalan keluar.

ironinya, ketika aku melihat kami mengelilinginya. ayahnya menangis untuknya, ibunya menangis untuknya, ibu tirinya menangis untuknya. adik perempuannya mencium pipinya. kakaknya membacakan yasin sambil berlinang air mata untuknya. kami hanya menatapnya di ruangan itu. bahkan ketika wajahnya telah ditutupi dengan kain hitam bercorak kaligrafi itu, kami masih hanya memperhatikannya. hanya untuk prakash kami.

lucu sekali kash.. aku ingin sekali tertawa ketika memikirkannya ; saat kau akhirnya mendapatkan apa yang kau inginkan. kau dapatkan perhatian yang kau inginkan, kau malah tidak di sana untuk menikmatinya. kau malah pergi.

dan ketika aku lihat wajahnya yang penuh puas itu, aku tahu ; ini bukan ironi untukmu kan? ini ironi untuk kami.

kami yang selama ini tidak memberimu perhatian itu, dan ketika kami memberinya kau pergi. kau yang tidak memberikan perhatian kepada kami dengan wajah pucatmu dengan mata setengah terbuka milikmu itu.