Selasa, 18 Oktober 2011

oct 17th is mom's and my birthday

(maaf telat sehari ;_; soalnya kemarin tidak sempat sama sekali megang laptop).

eits, jangan kejebak dulu, officially saya lahirnya tanggal 27 desember 1994. 17 oktober adalah tanggal lahir mama saya. tapi saya pernah dengar, setiap wanita itu sudah punya 'bakal' bayi dalam rahimnya ketika mereka lahir. hanya masalah soal kematangan dan pembuahannya yang menentukan 'jadi' bayinya nanti.

setelah 2 tahun lalu pernah melupakan hari ulang tahun ibu saya, saya tidak pernah lupa dengan tanggal 17 oktober lagi. sekarang 17 oktober adalah tanggal yang sangat sakral bagi saya.

ibu saya bernama nurbaity, dia anak perempuan pertama setelah kedua kakak laki-lakinya lahir. mungkin karena itu namanya 'nurbaity' yang berarti 'cahaya rumah(ku)'. mungkin saat itu kakek dan nenek saya berpikir ibu saya akan menjadi semacam wanita lemah lembut yang berbeda dari kedua abangnya. tapi toh dari cerita nenek, ibu dan saudara-saudara ibu, ibu saya itu adalah wanita yang (sepertinya) jauh dari kata lemah lembut.

kalau dilihat sekarang, susah percaya kalau ibu saya dulu suka berenang main 'kejar-kejaran' sama buaya di sungai. susah juga percaya ibu saya dulu suka main di hutan, menangkap udang dan pekerjaan-pekerjaan laki-laki lainnya. tapi saya cukup percaya dengan cerita itu, karena kaki ibu saya memang penuh dengan bekas luka.

mungkin karena pengaruh kedua abangnya dia jadi wanita yang keras seperti itu. sampai sekarang pun ibu saya lebih memenuhi kriteria sosok ayah di hidup saya ketimbang bapak. tapi bapak memang lebih keibuan daripada ibu saya (the opposite attract?).

bagi saya, ibu saya adalah sosok yang sangat dominan. sepertinya kesukaan ibu saya dengan warna merah bukannya tanpa alasan. ibu saya sangat cocok dengan warna itu ; full of passion. ia bisa bangkit lagi dari tempat tidurnya untuk bekerja walau baru tidur 2 jam seharian. ibu saya malah lebih terlihat letih saat tidak melakukan apa-apa alias saat panggilan untuk operasi sepi.

ibulah pendorong saya untuk memilih dokter sebagai cita-cita saya, mengingat beliau adalah orang kesehatan. ibu juga yang membuat saya merapikan kamar saya sekarang. karena pernah tinggal di auduri yang jauh, saat pagi hari ibu selalu mengingatkan untuk melakukan aktivitas di pagi hari dengan cepat dan sampai sekarang saya tidak bisa makan dengan lambat (hahaha). karena sering ditinggal di rumah, saya tidak pernah takut kalau rumah kosong. karena sering ditinggal dan dikunci dari luar (karena kalau tidak di kunci saya dan adik saya pasti meninggalkan rumah dalam keadaan menganga lebar) saya belajar memanjat jendela tinggi dan membobol pintu rumah dengan gunting saat masih duduk di bangku SD (ini benaran loh). dan masih banyak lagi 'keibuan' lainnya dalam hidup saya.

karena itu, setelah saya sebesar ini dan mengerti wujud kasih sayang ibu saya yang bentuknya agak berbeda dengan ibu-ibu lain, saya merasa bahwa 17 oktober bukan hanya tanggal lahir ibu saya, itu juga tanggal lahir saya.

tanpa 17 oktober, saya yang seperti sekarang ini tidak akan pernah ada .

Kamis, 06 Oktober 2011

sebuah kamis kelabu

kamis, 6 oktober 2011 saya bangun seperti biasa. jam 06.33 saya beranjak dari tempat tidur dan merapikan tempat tidur saya (saya mulai merapikan tempat tidur saya sendiri senin ini so yes, I'M DOING IT), mandi lalu mulai melakukan aktifitas yang akan dilakukan semua gadis berusia 14-x tahun (wanita akan terus melakukannya seumur hidupnya) sebelum pergi ke sekolah ; bersolek.

ketika saya sedang mengeringkan rambut saya, hape saya bergetar. jujur awalnya saya tidak punya perasaan atau firasat apa-apa. paling cuma feeling-feeling alami karena bakal ulangan kimia hari itu (gejala seperti muntah-muntah dan mual serta gejala ngeliatin buku nyariin mana lagi yang belum ngerti). setelah selesai ngeringin rambut saya buka sms. ternyata ina (sekretaris kelas) sedang menyebarkan berita tentang kepergian kak iqbal.

saya cuma diam. saya actually cuma bisa speechless. 
mungkin saya masih belum connect kali ya (maklumlah, i'm not a morning person).

setelah ke sekolah, cerita-cerita sama teman, nangis gara-gara cerita bu ani tentang kak iqbal, heboh  karena @nabiladavhega yang masang tweets kalau hari ini surga dunia, saya masih biasa-biasa aja. 

sampai akhirnya ketika kami berdo'a sebelum pergi ke tempat kak iqbal. waktu orang do'a saya bilang gini dalam hati ; 'ya, allah, ampunilah dosa-dosa kak iqbal yang pernah ia lakukan kepada-Mu karena saya yakin semua orang-orang ditinggalkannya juga pasti memaafkan dosa-dosanya kepada mereka'. baru saya menyadari.

yang sedang saya do'a kan ini kak iqbal. kak iqbal yang itu.

kak iqbal yang dulu main jimbe waktu lagi promosi ekskul kerlip saat MOS, kak iqbal yang jadi kakak pembimbing kami waktu latdas pertama untuk buat musikalisasi puisi, kak iqbal yang pintar main gitar, kak iqbal yang ikut ftr sama fajar, kaka iqbal yang duet sama kak sarah waktu buka puasa bersama. kak iqbal, kak iqbal.

baru akhirnya penyakit saya timbul, saya selalu tidak percaya dengan konsep meninggalkan ini. saya selalu tidak bisa percaya kalau orang yang saya kenal meninggal. rasanya aneh. rasanya tidak masuk akal. rasanya dia masih disana, disuatu tempat, bicara, tertawa, tersenyum, marah, menangis.

lalu saya pikir, mungkin kak iqbal memang sedang melakukannya ; tertawa, tersenyum, menangis, marah di suatu tempat. ia tertawa melihat kebodohan kami, tersenyum memandangi teman-temannya yang sangat menyayanginya, menangis melihat orang-orang yang menangisinya dan marah karena ia tidak bisa menghapus tangis mereka.

menurut saya, kak iqbal tidak pernah pergi kemanapun. seperti almarhumah bu ernaida dan almarhum prakash dwi pedi, kak iqbal ada di dekat kita. duduk, berdiri, memainkan musiknya, berjalan, berlari..

kak iqbal ada di setiap ingatan kita semua. dan saya yakin, sampai akhir pun, ia juga tetap mengingat orang-orang yang ditinggalkannya.