Kamis, 06 Oktober 2011

sebuah kamis kelabu

kamis, 6 oktober 2011 saya bangun seperti biasa. jam 06.33 saya beranjak dari tempat tidur dan merapikan tempat tidur saya (saya mulai merapikan tempat tidur saya sendiri senin ini so yes, I'M DOING IT), mandi lalu mulai melakukan aktifitas yang akan dilakukan semua gadis berusia 14-x tahun (wanita akan terus melakukannya seumur hidupnya) sebelum pergi ke sekolah ; bersolek.

ketika saya sedang mengeringkan rambut saya, hape saya bergetar. jujur awalnya saya tidak punya perasaan atau firasat apa-apa. paling cuma feeling-feeling alami karena bakal ulangan kimia hari itu (gejala seperti muntah-muntah dan mual serta gejala ngeliatin buku nyariin mana lagi yang belum ngerti). setelah selesai ngeringin rambut saya buka sms. ternyata ina (sekretaris kelas) sedang menyebarkan berita tentang kepergian kak iqbal.

saya cuma diam. saya actually cuma bisa speechless. 
mungkin saya masih belum connect kali ya (maklumlah, i'm not a morning person).

setelah ke sekolah, cerita-cerita sama teman, nangis gara-gara cerita bu ani tentang kak iqbal, heboh  karena @nabiladavhega yang masang tweets kalau hari ini surga dunia, saya masih biasa-biasa aja. 

sampai akhirnya ketika kami berdo'a sebelum pergi ke tempat kak iqbal. waktu orang do'a saya bilang gini dalam hati ; 'ya, allah, ampunilah dosa-dosa kak iqbal yang pernah ia lakukan kepada-Mu karena saya yakin semua orang-orang ditinggalkannya juga pasti memaafkan dosa-dosanya kepada mereka'. baru saya menyadari.

yang sedang saya do'a kan ini kak iqbal. kak iqbal yang itu.

kak iqbal yang dulu main jimbe waktu lagi promosi ekskul kerlip saat MOS, kak iqbal yang jadi kakak pembimbing kami waktu latdas pertama untuk buat musikalisasi puisi, kak iqbal yang pintar main gitar, kak iqbal yang ikut ftr sama fajar, kaka iqbal yang duet sama kak sarah waktu buka puasa bersama. kak iqbal, kak iqbal.

baru akhirnya penyakit saya timbul, saya selalu tidak percaya dengan konsep meninggalkan ini. saya selalu tidak bisa percaya kalau orang yang saya kenal meninggal. rasanya aneh. rasanya tidak masuk akal. rasanya dia masih disana, disuatu tempat, bicara, tertawa, tersenyum, marah, menangis.

lalu saya pikir, mungkin kak iqbal memang sedang melakukannya ; tertawa, tersenyum, menangis, marah di suatu tempat. ia tertawa melihat kebodohan kami, tersenyum memandangi teman-temannya yang sangat menyayanginya, menangis melihat orang-orang yang menangisinya dan marah karena ia tidak bisa menghapus tangis mereka.

menurut saya, kak iqbal tidak pernah pergi kemanapun. seperti almarhumah bu ernaida dan almarhum prakash dwi pedi, kak iqbal ada di dekat kita. duduk, berdiri, memainkan musiknya, berjalan, berlari..

kak iqbal ada di setiap ingatan kita semua. dan saya yakin, sampai akhir pun, ia juga tetap mengingat orang-orang yang ditinggalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar