Kamis, 27 Desember 2012

18th?

Hohohohohohoho! Akhir tahun artinya natal dan tahun baru bagi kebanyakan orang, bagi saya, akhir tahun adalah makin tua!

Happy 18th birthday Nurul Eka Putri! Congratulation! You're legal now! to read rated M fanfiction on asianfanfics and read yaoi manga with mature contents.. not like i'm waiting until actually 18 to read it tho

Ulang tahun yang ke-18 kali ini memang tidak seistimewa tahun kemarin, but i ain't turning 18 everyday, right?

Saya senang, kok! Bangun pagi ibu saya mengucapkan selamat ulang tahun, hadiah ulang tahun dari ibu tahun ini adalah kacamata baru, sepasang sandal cokelat dan 7 kotak susu strawberry, 2 yogurt, 2 bungkus lucky (i prefer pocky but i only get lucky.. oh, well) sebagai pengganti kue ulang tahun. Bapak memberikan saya hardisk berwarna putih yang sudah saya 'rengekan' sejak Oktober lalu. Adik saya (and his girlfriend) memberikan ucapan selamat ulang tahun. Reskianta, Furqon, Fasyin, Annida, Yayay, Pipit, Aga dan Fajar datang ke rumah. Birthday wishes came from friends and family <3

(It will be perfectly perfect if nanad's here but.. i'm not there on her birthday, i can't be selfish)

I actually pretty lonely on this birthday, ibu terus bekerja, bapak di Jakarta dan dedek liburan bersama temannya. Rasanya seperti.. detik-detik sebelum diberikan pesta kejutan, sayangnya saya tahu betul pesta kejutan itu cuma ada di film.

Oh, well, at least people i loved remembered my birthday and they wishing me happiness. It's no less perfect than any other 18th birthday, maybe without party and fancy cake, but everyone put so much loves in their birthday wishes. I love you all sooooo much! Thank you very much for everything, the loves that i received the whole years from all of you are the best 18th birthday's gifts ever! Thank you for 2012's loves everyone!

With so much love,
Nurul Eka Putri

My birthday cake from my friends <3

my birthday cake from my mom, love her so much 

reskianta's birthday gift for me, i love him so much! he reminds me of reskianta's cat 'bebi'

Rabu, 05 Desember 2012

Kalau Nanti.....

Belakangan ini kami mulai membayangkan masa depan. Dokter, bidan, kontraktor, pegawai bank, petani, pelaut, psikolog, dokter gigi, mimpi-mimpi indah.

"Kalau atap kalian bocor, biar aku yang urus!"

"Kalau stres dengan pekerjaan kalian, bisa datang kepadaku"

"Kalau mau pasang kawat gigi ke aku!"

"Kalau kalian ditilang polisi, panggil saja namaku 3 kali"

"Kalau nanti kucingku sakit, aku ke tempatmu, ya"

"Kalau sakit..."

"Kalau..."

Kalian boleh tertawa, atau mencemooh. Kalian bahkan boleh mengatainya di depan saya sekarang. Katakan bahwa mimpi kami terlalu indah untuk jadi nyata. Bahwa impian kami terlalu kekanakan dan bahwa kami tidak akan pernah bisa melakukannya, karena kami pemimpi yang bodoh.

Saya tidak akan marah, saya akan berusaha untuk tidak sakit hati. Namun, bila suatu hari 'kalau' kami tercapai, atau malah 'kalau' yang kami capai lebih indah, izinkan saya untuk tertawa sambil menjabat tangan kalian erat dengan mata penuh keceriaan.

"Kalau nanti kau ........ datang saja kepadaku!"

Minggu, 30 September 2012

Seorang Manusia dan Lebih

Kata Siwy : "seseorang yang berada pada suatu kelompok akan menjadi kelompok itu"

Saya tidak tahu darimana Siwy mengutip kata-kata itu, tapi kata-kata itu adalah hal paling realistik yang pernah saya dengar. Saya sendiri, adalah seseorang itu. Saya berubah menjadi suatu kelompok ketika saya berada di kelompok itu. Hanya waktunya saja yang berbeda, ada yang langsung bisa merubah warnanya seperti bunglon, ada yang harus menunggu lama untuk beradaptasi seperti merpati yang kian lama hanya dapat mengeruk daratan seperti ayam.

Saya tidak bisa menilai bagaimana saya berubah, secepat apa dan perubahan apa yang terjadi pada diri saya. Apa saya menjadi lebih baik? menjadi lebih busuk?

Saya, dari dulu sampai sekarang, suka sekali mempelajari karakter manusia. Baik mengaitkannya dengan astrologi, elemen, shio sampai golongan darah. Saya suka memberikan batasan kepada orang-orang, menyangkari mereka dalam argumen sepihak saya dan memberikan label ke setiap kotak-kotak manusia di dalam otak saya.

Saya rasa, saya salah. Manusia tidak bisa diberikan batasan dan label. Manusia berubah. Seperti bunglon dan merpati. Mereka tidak statis, mereka dinamis.

Mereka melakukannya untuk bertahan hidup di lingkungan mereka, agar mereka dapat hidup dalam suatu golongan. Ada yang berubah seperti merpati kota, tanpa sadar terus mengeruk tanah, mencari makanan sampai lupa tentang sayap mereka. Mereka berubah untuk mengelabui semua orang. Mereka berubah agar tidak diserang. Ada banyak alasan mengapa manusia berubah.

Maka kelompok adalah lingkungan, dan seseorang adalah adaptor, mereka tidak akan pernah berhenti berubah. Mereka akan terus berubah. Sampai suatu saat Tuhan mengambilnya dari lingkungan, maka (mungkin) ia akan kembali menjadi dirinya.

Pertanyaannya ; sebelum masuk ke dalam lingkungan, kita ini apa? siapa? bagaimana? Tanpa ada kelompok, seseorang itu seperti apa? Sebelum terjadi perubahan, diri kita yang sebenarnya itu bagaimana? Ada dimana?

Sekelompok manusia itu dewa. Seorang manusia itu kosong, hampa, tidak ada apa-apanya.

Senin, 10 September 2012

DIE

'We won't pretend to be the best class and act like we have the strongest solidarity amongst others because we are not. But we are having fun with each other and we think that's all matters'-DIE

Ya, kami XII IPA 4 bukan kelas paling kompak, paling solid, paling keren, paling bagus dan paling segala-galanya. Kami tidak mau menjadi hipokrit, di antara kami ada rasa tidak suka, tidak nyaman, canggung, sedikit dendam, memori-memori buruk dan lain-lain.

Saya sendiri punya rasa tidak suka dengan sikap Fajar yang suka nyeletuk (because he got us on troubles everytime he spoke to teacher in that way), saya sangat canggung dengan beberapa teman sekelas seperti Fadlan atau bahkan Yoan (Yoan sudah 2 setengah tahun sekelas dengan saya), saya masih punya dendam dengan Agung (Gung, aku masih ingat gara-gara kau ngilangin rekaman kito waktu kelas X, kito mesti re-take 2 kali! 2 kali!) dan masih banyak hal jelek lainnya.

Tapi kami semua belajar untuk tertawa bersama. Bersenang-senang, saling bercanda, saling mengejek, ya! Bersenang-senang! Kelas kami tidak punya bound yang mengikat siapapun. Kami menghargai keinginan dan hak setiap individu. Tidak ada yang harus mengimbangi siapapun, tidak ada yang harus memberikan semangat kalau tidak mau, tidak ada yang harus ikut berpartisipasi di luar kewajibannya kalau keberatan, semudah itulah kelas kami.

Dan saya tidak keberatan dengan keadaan seperti ini. Kami tidak berharap untuk menang dalam perlombaan antar kelas, kami ikut berpartisipasi agar tidak didenda, why put an act? 

Kami bukan kelas yang hebat, kawan-kawan, kami kelas biasa. Kehebatan kelas XII IPA 4 menurut saya adalah kebebasannya. Kelas ini tidak mengikat, tidak memerlukan biaya besar, tidak menuntut terlalu besar dan tidak punya ambisi besar. Kelas ini hanya ada di situ, tidak bergerak, tidak berubah, hanya sebuah kelas, nyata.

'We are not big neither strong but we are here, real and having fun--in our own way'- DIE 

D I E : Duabelas Ipa Empat (LOL, calm down, this name is not official)

IMPORTANT NOTE : I WROTE THIS BECAUSE I WANT TO EXPRESS MY FEELS OF THIS CLASS OF OURS. I DIDN'T WRITE THIS TO OFFEND ANYONE (INCLUDING FAJAR, FADLAN, YOAN AND AGUNG), OKAY? i simply states the truth v-_-v

Selasa, 17 Juli 2012

Upik Kirana

Pada suatu hari, di suatu negeri, hiduplah seorang duda yang kaya raya bersama anak gadisnya. Duda itu setiap harinya sangat sibuk sehingga tidak bisa menemani putrinya bermain. Karena mengkhawatirkan putrinya yang tidak memiliki figur seorang ibu dan teman untuk bermain, duda itu menikahi seorang janda yang memiliki 2 putri. Duda itu berharap, istri baru dan kedua anaknya dapat menghilangkan kesepian putrinya.

Namun, tak lama kemudian duda itu jatuh sakit. Putrinya yang malang setiap harinya berdo'a untuk keselamatan sang duda. Namun, walau telah meminum obat dari dokter dan dirawat dengan dokter terbaik di seluruh negeri, sang duda tak kunjung sembuh, malahan penyakitnya tambah parah. Suatu hari, ketika putri kandung dari sang duda hendak memberi makan hewan-hewan ternak di belakang rumah mereka, ia melihat ibu tirinya membuang obat ayahnya dan menggantinya dengan cairan yang mencurigakan.

Putri kandung sang duda diam-diam membeli obat ayahnya dan menggantikan cairan mencurigakan dengan obat yang asli. Tak lama kemudian, sang duda sehat kembali. Selama ia sakit, ia menyadari betapa berharga putrinya yang telah dengan setia selalu menunggui dan merawatnya. Tidak sekalipun istri barunya atau kedua anak tirinya mengunjungi dirinya saat dirinya sakit.

Sang duda segera menganakemaskan putri kandungnya. Ia memberikan segala yang indah kepada putrinya itu. Perhiasan yang cantik, gaun yang cantik, sisir rambut yang cantik, sepatu yang cantik, hingga putri kandungnya itu selalu diselimuti keindahan. Karena selalu diselimuti keindahan, orang-orang mulai memanggil putrinya Upik Kirana (Kirana ; elok ; indah ; laksmi ; cantik).

Upik Kirana, walaupun dibanjiri pujian atas kecantikannya, tidak pernah menjadi sombong. Ia tetaplah gadis baik hati yang sangat menyayangi ayahnya.

Tiba-tiba, datanglah undangan pesta dari istana. Putra Mahkota hendak mencari calon pendamping dan semua gadis di seluruh negeri diundang ke pesta itu. Semua gadis mengenakan gaun terindah mereka, termasuk juga Upik Kirana.

Upik Kirana pergi ke pesta bersama keluarganya, ayah, ibu dan saudara tirinya. Dengan gaun berwarna merah muda yang ia jahit sendiri, serta sepasang sepatu yang dipilihkan ayah tercinta, ia menjadi salah satu gadis terelok di pesta. Namun, putra mahkota tidak tertarik dengan gadis yang biasa-biasa saja.


'Andai saja ada seorang gadis bergaun biru indah dan mengenakan sepasang sepatu kaca muncul dari sebuah kereta labu' pikir sang putra mahkota.

Upik Kirana menikmati pesta bersama ayahnya, ia berdansa, makan makanan yang enak dan mendapatkan banyak kenalan. Upik juga sempat melihat wajah sang putra mahkota yang tampan, 'andai saja aku dapat berdansa dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya, meski hanya sampai tengah malam nanti' pikirnya sambil tersenyum.

Pesta berakhir dini hari, Upik Kirana pulang dengan hati yang bahagia dan putra mahkota tidak menemukan gadis impiannya. Beberapa bulan kemudian, putra mahkota menikah dengan seorang putri dari negeri tetangga melalui perjodohan. Semua orang ikut bersuka cita. Upik Kirana pun menikah dengan tangan kanan ayahnya, mereka juga menikah karena dijodohkan.

Sang duda meninggal tak lama setelah pernikahan putrinya dan istri beserta anak tirinya pindah dari rumah Upik Kirana. Upik Kirana hidup bahagia, terkadang agak kesepian, juga banyak berandai-andai dan terus menyesali beberapa hal dalam hidupnya. Namun, ia bahagia juga, memiliki kehidupan yang cukup sempurna  dengan seorang suami yang mencintainya, anak laki-laki yang lincah, calon bayi perempuan dan seekor anjing yang setia.

                        2 ekor tikus mengintip dari celah dinding, mengincar sepotong keju di meja makan rumah keluarga Upik Kirana.

Sabtu, 14 Juli 2012

Bunuh Diri

Kadang, aku berpikir, bagaimana hidupku bila aku terlahir bukan sebagai seorang Nurul Eka Putri.

Nurul Eka Putri, yang seperti ibuku bilang adalah anak yang tidak cantik, tidak pintar dan tidak sempurna namun lebih beruntung dari adik laki-lakinya. Terlahir dengan otak yang lebih mampu berkembang dibanding saudara-saudara di keluarganya.


Aku sering sekali berandai-andai, bagaimana hidupku bila aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki yang tidak memiliki tuntutan apapun. Semakin ditekankan bahwa aku bisa dan adikku tidak bisa, karena itu aku seharusnya berusaha lebih keras, semakin aku berandai menjadi adik laki-lakiku.

Asyik sekali, hidup tanpa tuntutan dan tanpa expectation dari orang-orang di sekeliling kita. "Sebenarnya terserah saja mau jadi apa, tapi kalau nanti tidak sukses jangan menyesal tidak ikut kataku," bukankah kata-kata itu sungguh membebani? 'Setidaknya kalau aku mengikuti ibuku, bila aku tidak bahagia nanti aku tidak harus menyalahkan diriku' pikirku dengan picik saat memilih jalanku ke depan.

Aku selalu dikelilingi perasaan-perasaan yang buruk rupa; iri, cemburu, benci. Bukankah sebagai kakak aku tidak seharusnya merasa seperti itu?

'Kau lebih tua, seharusnya kau lebih dewasa' demikian yang aku dengar, sangking seringnya membuatku muak. Sejak lama aku ingin sekali membalas kata-kata itu, beda umurku dan adikku tidak 5 tahun, hanya 1 setengah tahun. Kalau adikku masih kecil, begitupun aku. Bila aku sudah dewasa, adikku pun tidak jauh di belakang akan menyusulku.


Andai saja Nurul Eka Putri tidak ada, pikirku. Andai saja aku terlahir sabagai adikku. Andai saja saat 27 Desember 1994 itu terlahir gadis sempurna, cantik, jenius, penurut, tidak keras kepala, tidak bebal, tidak busuk hati dari rahim ibuku. Mungkin semuanya akan lebih bahagia, mungkin AKU akan lebih bahagia. 


Kalau saja Nurul Eka Putri tidak sepertiku, atau Nurul Eka Putri itu bukan aku, apakah kau akan lebih bahagia?


(Dengan berpikir seperti ini, apakah aku sudah bunuh diri?)








Selasa, 10 Juli 2012

Sepasang Anting dan Diriku

Aku belajar untuk tidak menggantung seperti sepasang anting lagi.

Mengumpamakan diriku dulu dan sepasang anting, seperti mengumpamakan kaki kiri dan kananku, hampir persis, sayangnya tidak sama. Setiap hari menggelayut, kadang tertutup rambut, sepertinya menambah kepercayaan diri yang kugelayuti, tapi siapa yang tahu? Karena sama seperti sepasang anting, aku menggelayut untuk dilihat, diperhatikan, ditatap cantik dan menjadi tidak sendirian.

-

Aku menolak tinggal di kotak perhiasan lusuh atau di laci penuh manik serta bungkus kosong perhiasan lain. Aku juga mau berjalan-jalan melihat dunia, dipuji dan terkenal, walau sebagai perhiasan. Tidak seperti gelang yang akan dilepas nantinya atau kalung yang hanya tinggal dikaitkan, sepasang anting seperti diriku diborkan sepasang lubang dan digelayutkan di sana agar tidak hilang. Aku dan orang yang kugelayuti (mulai dari sekarang akan disebut sebagai Adelis) bersama hampir setiap waktu.

Adelis menghabiskan banyak waktu, kesabaran dan rasa sakit untuk mengebor sepasang lubang untukku. Ia tidak akan dengan bodohnya melepas anting-antingnya dan membiarkan kedua lubang itu menutup kembali. Adelis akan terus mengenakan diriku, sepasang anting, agar lubang yang telah ia bor dengan penuh air mata dan desis kesakitan itu tidak sia-sia. Sepasang anting adalah perhiasan yang sangat pintar.

Namun, sepasang anting yang tertutup rambut tidak buta, Adelis yang dulu hanya mengenakan satu cincin kini memiliki tiga cincin, ia menggantinya setiap hari. Dua minggu setelah itu Adelis membeli sebuah kalung cantik yang terbuat dari manik, beda dari kalung emas yang sering ia pakai, ia akan memakai kalung manik saat santai dan kalung emas saat formal. Tak beberapa lama kemudian, gelang-gelang kayu besar menggantikan gelang rantai kecil dari perak yang selalu ia pakai di tangan kirinya, namun hari Minggu ia akan menggantinya lagi dengan gelang yang lama.

Begitulah, Adelis banyak membeli perhiasan yang indah-indah.

Setiap Adelis bercermin, aku juga menatap diriku di cermin, bertanya-tanya kapan Adelis akan menggantiku. Mungkin gelang, kalung dan cincin tidak keberatan harus berbagi Adelis dengan perhiasan-perhiasan baru, tapi aku tidak mau meninggalkan tempatku, di kedua telinga Adelis, dekat dengan wajahnya, tinggi dari perhiasan-perhiasan lain. Disini, di tempatku, aku merasa aman dan angkuh. Tak ada yang bisa menyentuhku kecuali jari-jari mungil Adelis.

Setiap hari aku gelisah, aku menolak melihat cermin lagi dan bersembunyi di balik rambut ketika Adelis pergi keluar rumah.

Sampai suatu malam aku merenung. Renunganku lama sekali, ayam-ayam berkokok pukul 2 pagi dan aku masih merenung. Pukul 4 pagi, aku menyerah, bertahan di singgasana ini hanya membuatku sakit setiap harinya. Karena aku sepasang anting, aku tidak mungkin menangis, perhiasan tidak boleh menangis, kami seharusnya membuat orang-orang seperti Adelis tampak lebih berkilau, menangis mengacaukan kilauannya.

Tik tik tik tik tik tik

Aku merayap pelan dari singgasanaku, tempat di dekat Adelis yang kucintai dan kusayangi. Jatuh di kolong tempat tidur yang gelap dan lembab. Mulai menangis meraung-raung, tidak mempedulikan masalah kilaunya lagi. Melupakan diriku sebagai sepasang anting dan hidup tidak menggantung atau menggelayut.

Aku sekarang belajar untuk tidak jadi sepasang anting lagi, atau perhiasan lainnya. Aku belajar untuk menjadi Adelis, dan mengenakan perhiasan lain. Kadang aku merindukan hidupku sebagai sepasang anting ketika mendengar suara Adelis atau melihat dirinya tanpa anting-anting lagi dengan lubang di kedua telinganya yang hampir menutup sempurna.

Namun, Adelis memiliki 3 cincin, 2 kalung dan sebuah gelang perak serta gelang-gelang kayu besar yang menjadi perhiasannya, sepasang anting tidak harus menghiasinya. Lagipula, sebagai permohonan maaf, aku telah membuat lubang di kedua telingaku, namun tanpa sepasang anting. Aku membiarkannya seperti itu, sampai tertutup, lalu melubanginya lagi. Hanya untuk mengingatkan.

Aku bukan anting lagi, Adelis. Aku (pernah) mencintai dirimu.

Selasa, 31 Januari 2012

dan akhirnya aku jatuh cinta padamu

Dalam setiap percintaan, setiap orang diberikan pilihan. Aku juga, kau juga, kita semua juga. Jadi nanti bila kita bersama atau berpisah, itu semua tercipta karena pilihan ; pilihanmu dan pilihanku. 

Aku berharap bila kita bersama nanti, bila kita sama-sama melayangkan pilihan itu, aku tidak memilihmu atas dasar cinta. Aku berharap, pilihanku datang karena aku mempercayaimu dan mengagumi, baik sebagai seorang laki-laki, dan sebagai seorang pasangan.

Aku akan memilihmu bukan karena wajah, sayang, tenang saja. Dari harta, mungkin, tidak akan kuingkari, tapi lebih utama dari bagaimana kau bisa memenangkan pilihanku. Aku selalu menyukai laki-laki yang rendah hati, yang menghargai orang lain, yang mengharapkan pertemanan yang tulus. Aku selalu menyukai laki-laki yang memikirkan masa depannya, memikirkan pilihan orang tuanya. Aku harap, nanti aku tidak salah memilihmu. 

 Sayang, apa kau tahu bagaimana bayanganku tentang dirimu saat ini? Aku membayangkan kau adalah laki-laki baik yang canggung kepada wanita. Aku selalu membayangkanmu seperti itu, alasannya karena aku pencemburu dan egois, aku tidak akan tahan melihatmu merasa nyaman dengan wanita lain.

Nanti saat kita sama-sama melayangkan pilihan, membuat suatu percintaan yang sah di mata tuhan, aku harap  kita jatuh cinta pelan-pelan saja. Seperti irama yang tidak terburu-buru, agar cinta kita lebih dewasa. Aku harap, kau mengerti, tentu saja aku memilihmu dengan pertimbangan harta. Bukan harta nenek buyutmu, atau tante dan saudaramu, aku akan mempertimbangkan hartamu, sebagai bukti bahwa kau tidak pernah menyia-nyiakan hidup saat kau masih belia, sebagai bukti bahwa kau bertanggungjawab dan bisa aku percaya.

Apa kau sedang tertawa sekarang? Apa aku terlalu naif dan sedikit munafik saat masih muda?

Sayang, aku harap kau menjagaku dengan penuh kasih sayang. Aku tidak menuntut cinta yang membara, hanya sebuah keharmonisan. Aku tidak tahu bagaimana nanti kita bersama, tapi yang pastinya aku memilihmu dengan semua pertimbangan,

dan akhirnya aku jatuh cinta padamu.

Selasa, 24 Januari 2012

blood type

Setelah membaca komik golongan darah (dari RealCrazyMan's Blood Type Comic) saya bisa memgambil kesimpulan kalau :

1. Golongan darah A : sangat normal
2. Golongan darah 0 : normal
3. Golongan darah B : aneh tanpa moral yang jelas
4. Golongan darah AB : alien tanpa definisi

Istilahnya, ya, dalam rantai kehidupan mereka itu A = malaikat, B = setan, O = manusia, AB = alien. Walau AB sering tidak di definisikan dengan jelas di dalam komik itu (dalam kata lain, golongan darah AB selalu dikaitkan dengan keanehan), saya cukup bangga juga jadi golongan darah AB setelah baca komiknya. Soalnya golongan darah AB kelihatan keren di dalam komik (rasanya, sih, saya tidak sekompleks itu juga, deh). 

Dalam hubungan dengan golongan darah yang lain, golongan darah AB, katanya, KATANYA, paling fleksibel. Soalnya semua golongan darah hanya cocok dengan sesama golongan darahnya sendiri dan golongan darah AB, sedangkan AB bisa cocok dengan semua golongan darah. Keren kan? 

Ini beberapa komik golongan darah, sisanya cari sendiri ya di blog RealCrazyMan :







Unyu-unyu kan? Hahahahahahaha x'D

Rabu, 18 Januari 2012

happy birthday ajeng :)

Apa kadonya sudah sampai? Apa kau suka kadonya?

Yah, kau harus menyukai kadonya. Aku dan Titik menghabiskan setengah hari untuk mencari boneka monyet itu. Kami cari ke Jamtos sampai ke WTC, di WTC mutar-mutar sampai ke ruko luar WTC, tidak juga ketemu, akhirnya ke WTC lagi, baru nemu setelah ditelusuri lagi.

Sangking hebatnya pencarian boneka monyet itu, kayaknya aku dan Titik bisa buat buku dari perjalanan kami (lebay).

Hahahahahaha, cukup masalah kado. Apa kabar Ajeng? Gimana ulang tahun di Jawa? (nggak seru kan nggak ada kami? Kau nyesal kan ninggalin kami yang unyu-unyu ini?) Ya, aku dan teman-teman harap pasti meriah juga disana.

Sayang kau tidak disini jeng, padahal kami pengen beliin kue untuk kau :( Kami bahkan berencana untuk ngirimin kue ke sana. Sayang, (sebagian dari) kami masih waras.

Anggaplah boneka monyet itu kami, peluklah setiap hari Jeng, kalau kau rindu kami (Titik terutama) pandangilah boneka itu Jeng, niscaya kau pun pasti merasa tidak kesepian lagi. Kalau punya waktu mampir-mampirlah ke Jambi (lagak Jambi-Solo kayak Jambi-Bulian). Makanlah yang banyak, minumlah juga yang banyak, jangan lupa tidur, belajarlah yang rajin, nanti kalau sudah kaya jangan lupakan kami :')

Sampai disini dulu ucapan happy birthday aku yang kepanjangan dan tidak bermoral. Selamat ulang tahun Ajeng, semoga sehat sentosa dan bahagia. Semoga kau terus se-awesome yang kami kenal bahkan menjadi lebih awesome. I love you Ajeng. Trench love you too Ajeng ;)

PS : aku dak punyo pulsa - -'

Sabtu, 14 Januari 2012

reblog : siwyopus: Take a pict bareng Harry and Hermione :*

siwyopus: Take a pict bareng Harry and Hermione :*: ini fotoku bersama kedua sahabatku, disuatu sore yang dingin sebelum kembali ke Hogwarts,sekolah kami . kami menyempatkan foto disebuah st...

Rabu, 11 Januari 2012

tanah asing

"Selamat datang," seorang lelaki tua dengan senyum letih membukakan pintu kelas untukku. Ada banyak orang disana, mungkin 25, mungkin, aku terlalu sibuk menatap lantai kelasnya yang kotor daripada menghitung jumlah kepala yang ada di dalam ruangan itu.

Lelaki itu mendorong punggungku sedikit, mengisyaratkan untuk masuk. Ragu, kutatap lama matanya yang sayu, akhirnya aku sepakat untuk masuk. Mengejutkan, banyak wajah yang familiar. Ada seseorang yang rasanya bernama Jessica. Ada banyak anak perempuan yang pernah kutemui entah dimana. Namun, anak laki-lakinya terlihat asing. Ada yang nyentrik dengan celana leopard, ada yang emo dengan rambut pendek, ada yang keriting   hampir kribo. Laki-lakinya menatapku tidak bersahabat, perempuannya menatapku kosong. Aku merasa seperti gundakan barang bekas. Bukan, rasanya lebih seperti barang diskonan yang sudah lecek.

Tapi ada seseorang yang aku kenal disana. Itu Siwy! Duduk sebelah kiri kelas, dengan jilbab abu-abu dan senyum canggungnya. Tunggu, kapan Siwy pindah kesini? 

"Duduklah dimana pun kau suka," lelaki tua itu tersenyum lagi dengan malas. Itu saja? Aku hanya memperlihatkan wajahku di dalam kelas dan aku boleh duduk? Wow, kota ini jauh lebih fleksibel dari yang kupikirkan. Kukira akhirnya akan seperti novel.

Aku menatap seluruh kelas, hanya ada satu kursi kosong di sebelah Jessica. Aku mengernyitkan keningku, "tapi hanya ada satu kursi kosong, pak."

"Tepat sekali," ia duduk dan mengambil kacamata berlensa bulat dengan pinggiran berwarna emas. Aku menghela nafasku dan berjalan agak cepat menuju Jessica. "Hai," sapa Jessica dengan setengah tersenyum. "Apa kita pernah bertemu?" tanyaku.

Ia menggeleng, "aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." 

"Oh, kau terlihat familiar."

"Benarkah? Tapi aku benar-benar belum pernah bertemu denganmu."

Kemudian Jessica menatap ke depan kelas, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraanku dengannya. 
          
Tempat ini seperti tenda sirkus. Apa kalian tahu tenda sirkus? Ya, tenda besar warna-warni yang meriah itu. Bedanya tempat ini terlihat lebih kokoh, seperti bangunan dari bata, baunya saja sama. 

"Apa ini asrama kita?" aku menatap Siwy dengan tatapan setengah tidak percaya. Siwy mengangguk, "ya, tempat ini sangat nyaman dan menyenangkan." Jawabnya bahagia. 

Di ibukota aku harus tinggal di tenda? Apa ini lelucon?

"Dimana kau tidur?" aku mengedarkan pandanganku. Tempat ini tidak punya kamar, hanya ada palang pemisah dengan kain kasar warna hijau lumut tua. "Disitu," Siwy menunjuk sebuah tempat tidur di sudut tenda raksasa ini.

"Dimana aku tidur?" aku menarik koperku ke samping.

"Dimana pun kau suka," ia menatapku dengan mata yang berbinar-binar. "Aku menatap tempat itu lagi, "tapi hanya ada satu tempat tidur kosong disini."

Siwy berjalan ke tempat tidurnya sambil-setengah-menari, "tepat sekali."
          

"Kau tidak ke pesta?" tanya seorang gadis dengan rambut ikal panjang. Ia menatapku dengan mengantuk. Wah, lihat bajunya, sebuah gaun berenda yang terbuat dari sutra, di atas kepalanya ada sebuah pita besar. Hal yang paling menggelikan dari gadis ini adalah, ia sama sekali tidak terlihat menggelikan dengan pakaian itu.

"Pesta? Pesta apa?" aku kebingungan. Gadis itu sedang berbaring di tempat tidurnya, "pesta, kau diundang, lihat di mejamu, ada undangan warna ungu." Aku melirik mejaku, ya, memang benar ada undangan disana. Gadis itu menguap, "buka saja."

Aku menatapnya sebentar, lalu meraih undangan itu. Ada namaku disana. Aku diundang ke pesta di rumah besar sebelah asrama. "Kau harus pergi," gadis tadi tiba-tiba menuntut. "Kau tidak pergi?" tanyaku.

"Aku mengantuk."

Lalu ia tertidur dengan gaun indahnya itu.
           
Rumah ini besar sekali, mungkin sekitar 5 kali tenda asrama kami. Tapi tidak ada tanda-tanda adanya pesta disana. Padahal aku sengaja datang terlambat untuk menjauhi kecanggungan ketika masuk ke pesta. Kau tahukan? Bila mereka sibuk berpesta, aku bisa mudah berbaur dengan kerumun.

Entah bagaimana, aku memutuskan untuk masuk. Dalamnya biasa saja, seperti rumah mewah biasa. Beda sekali dengan luarnya. Tapi tidak ada orang di dalam sini, apa aku salah rumah?

Zzzzzzz

Bunyi ini.. Ini suara orang tidur dalam komik anak-anak. Aku celingukan lalu mendapati seseorang tidur di sofa. 

Itu Mitasya!

Dia terlihat lelah sekali, aku hampir tidak tega membangunkannya. Tapi aku harus bertanya!

"Kau tidak tersesat, ini memang tempat pestanya," Tasya tiba-tiba bicara. "Hah?" Ia menunjuk bagian dalam rumah. "Jalan-jalan saja dulu, mungkin yang lain terlambat ke pesta. Mereka sibuk sekali berdandan." Lalu ia kembali tidur.

Aku akhirnya mengikuti saran Tasya untuk jalan-jalan. Tempat ini nampaknya biasa saja tapi luas juga. Tiba-tiba aku melihat mangga, sayang mangganya ada di lantai dua. Aku mencari tangga, tapi tidak ada tangga disini. 

Aku ingin mangganya!

Nekat, aku memanjati tiang di dekatku, lalu dengan cekatan menarik tubuhku ke atas. Aku mengambil mangganya dengan sangat senang, tapi aku mendengar suara televisi dan sebuah keluarga tertawa dari arah dalam. Karena panik aku langsung turun dari lantai dua dan bergegas pergi dari situ.

Saat setengah nyengir bangga karena berhasil lari, aku sadar.

Mangga-manggaku tinggal.
            
Sekarang aku berada di sebuah taman yang sangat luas. Jalan setapaknya namun, sangat kecil. Aku tetap berjalan sambil bertanya-tanya dimana jalan kecil ini akan bermuara. 

Ternyata sebuah gazebo mungil ada di ujung taman. Di sebelahnya adalah pagar dari besi yang membatasi taman dengan jalan raya. Aku duduk-duduk di gazebo sambil melihat-lihat taman, tiba seseorang datang dengan sepeda merah kecil. Rambut orang itu kribo dan sepertinya ia memakai seragam jasa pengiriman barang. 

"Permisi nona, ada kiriman," ia memberiku sebuah bungkusan. "Tapi aku bukan penghuni rumah ini," aku menatapnya bingung. "Aku tahu, maka dari itu aku memberikannya kepadamu," ia lalu berlalu.

"Apa seorang pengantar paket datang?" aku menatap ke belakangku dengan terkejut. Ternyata teman sekelasku yang berambut keriting. Aku mengangguk dan menyodorkan bungkusannya. "Apakah ini punyamu?" 

Ia mengambil bingkisan itu. "Tidak, rumah ini rumah kontrakan. Ini milik yang punya rumah." Aku sebenarnya tidak mengerti, tapi aku mengangguk saja. "Apa pestanya sudah mulai?" tanyaku.

"Belum, jalan-jalan lah dulu. Rumah ini sangat luas."

Aku pun berjalan-jalan lagi.
            
Aku membuka pintu-pintu ruangan rumah itu mencari seseorang. Mungkin yang lain juga sedang berjalan-jalan sama seperti diriku. Ruangan pertama sangat sempit, hanya ada tempat tidur kecil dengan seprei putih polos. Ruangan kedua sangat besar, ada sebuah tempat tidur besar dengan seprei mewah. Ruangan ketiga kosong. Ruangan keempat dikunci.

Rumah ini aneh sekali, dimana sih orang-orang?

Aku harap Siwy disini, pikirku sambil terduduk. Atau bahkan Jessica.

                                 Kemudian aku terbangun di sebuah kamar oranye.


Hahahahahahahahahahaha, ini tadi mimpi saya semalam. Saya mimpi pindah ke Jakarta, tapi sekolah dan lingkungannya aneh sekali. Tentu saja cerita di atas tidak sepenuhnya benar mimpi saya, karena terkadang di dalam mimpi kita melupakan mengingat detail. Kata Tami mimpi saya seperti wonderland. Tapi hal yang paling aneh adalah, kenapa Siwy dan Tasya ada di sana? Siapa juga Jessica ini. =''=