Rabu, 11 Januari 2012

tanah asing

"Selamat datang," seorang lelaki tua dengan senyum letih membukakan pintu kelas untukku. Ada banyak orang disana, mungkin 25, mungkin, aku terlalu sibuk menatap lantai kelasnya yang kotor daripada menghitung jumlah kepala yang ada di dalam ruangan itu.

Lelaki itu mendorong punggungku sedikit, mengisyaratkan untuk masuk. Ragu, kutatap lama matanya yang sayu, akhirnya aku sepakat untuk masuk. Mengejutkan, banyak wajah yang familiar. Ada seseorang yang rasanya bernama Jessica. Ada banyak anak perempuan yang pernah kutemui entah dimana. Namun, anak laki-lakinya terlihat asing. Ada yang nyentrik dengan celana leopard, ada yang emo dengan rambut pendek, ada yang keriting   hampir kribo. Laki-lakinya menatapku tidak bersahabat, perempuannya menatapku kosong. Aku merasa seperti gundakan barang bekas. Bukan, rasanya lebih seperti barang diskonan yang sudah lecek.

Tapi ada seseorang yang aku kenal disana. Itu Siwy! Duduk sebelah kiri kelas, dengan jilbab abu-abu dan senyum canggungnya. Tunggu, kapan Siwy pindah kesini? 

"Duduklah dimana pun kau suka," lelaki tua itu tersenyum lagi dengan malas. Itu saja? Aku hanya memperlihatkan wajahku di dalam kelas dan aku boleh duduk? Wow, kota ini jauh lebih fleksibel dari yang kupikirkan. Kukira akhirnya akan seperti novel.

Aku menatap seluruh kelas, hanya ada satu kursi kosong di sebelah Jessica. Aku mengernyitkan keningku, "tapi hanya ada satu kursi kosong, pak."

"Tepat sekali," ia duduk dan mengambil kacamata berlensa bulat dengan pinggiran berwarna emas. Aku menghela nafasku dan berjalan agak cepat menuju Jessica. "Hai," sapa Jessica dengan setengah tersenyum. "Apa kita pernah bertemu?" tanyaku.

Ia menggeleng, "aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." 

"Oh, kau terlihat familiar."

"Benarkah? Tapi aku benar-benar belum pernah bertemu denganmu."

Kemudian Jessica menatap ke depan kelas, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraanku dengannya. 
          
Tempat ini seperti tenda sirkus. Apa kalian tahu tenda sirkus? Ya, tenda besar warna-warni yang meriah itu. Bedanya tempat ini terlihat lebih kokoh, seperti bangunan dari bata, baunya saja sama. 

"Apa ini asrama kita?" aku menatap Siwy dengan tatapan setengah tidak percaya. Siwy mengangguk, "ya, tempat ini sangat nyaman dan menyenangkan." Jawabnya bahagia. 

Di ibukota aku harus tinggal di tenda? Apa ini lelucon?

"Dimana kau tidur?" aku mengedarkan pandanganku. Tempat ini tidak punya kamar, hanya ada palang pemisah dengan kain kasar warna hijau lumut tua. "Disitu," Siwy menunjuk sebuah tempat tidur di sudut tenda raksasa ini.

"Dimana aku tidur?" aku menarik koperku ke samping.

"Dimana pun kau suka," ia menatapku dengan mata yang berbinar-binar. "Aku menatap tempat itu lagi, "tapi hanya ada satu tempat tidur kosong disini."

Siwy berjalan ke tempat tidurnya sambil-setengah-menari, "tepat sekali."
          

"Kau tidak ke pesta?" tanya seorang gadis dengan rambut ikal panjang. Ia menatapku dengan mengantuk. Wah, lihat bajunya, sebuah gaun berenda yang terbuat dari sutra, di atas kepalanya ada sebuah pita besar. Hal yang paling menggelikan dari gadis ini adalah, ia sama sekali tidak terlihat menggelikan dengan pakaian itu.

"Pesta? Pesta apa?" aku kebingungan. Gadis itu sedang berbaring di tempat tidurnya, "pesta, kau diundang, lihat di mejamu, ada undangan warna ungu." Aku melirik mejaku, ya, memang benar ada undangan disana. Gadis itu menguap, "buka saja."

Aku menatapnya sebentar, lalu meraih undangan itu. Ada namaku disana. Aku diundang ke pesta di rumah besar sebelah asrama. "Kau harus pergi," gadis tadi tiba-tiba menuntut. "Kau tidak pergi?" tanyaku.

"Aku mengantuk."

Lalu ia tertidur dengan gaun indahnya itu.
           
Rumah ini besar sekali, mungkin sekitar 5 kali tenda asrama kami. Tapi tidak ada tanda-tanda adanya pesta disana. Padahal aku sengaja datang terlambat untuk menjauhi kecanggungan ketika masuk ke pesta. Kau tahukan? Bila mereka sibuk berpesta, aku bisa mudah berbaur dengan kerumun.

Entah bagaimana, aku memutuskan untuk masuk. Dalamnya biasa saja, seperti rumah mewah biasa. Beda sekali dengan luarnya. Tapi tidak ada orang di dalam sini, apa aku salah rumah?

Zzzzzzz

Bunyi ini.. Ini suara orang tidur dalam komik anak-anak. Aku celingukan lalu mendapati seseorang tidur di sofa. 

Itu Mitasya!

Dia terlihat lelah sekali, aku hampir tidak tega membangunkannya. Tapi aku harus bertanya!

"Kau tidak tersesat, ini memang tempat pestanya," Tasya tiba-tiba bicara. "Hah?" Ia menunjuk bagian dalam rumah. "Jalan-jalan saja dulu, mungkin yang lain terlambat ke pesta. Mereka sibuk sekali berdandan." Lalu ia kembali tidur.

Aku akhirnya mengikuti saran Tasya untuk jalan-jalan. Tempat ini nampaknya biasa saja tapi luas juga. Tiba-tiba aku melihat mangga, sayang mangganya ada di lantai dua. Aku mencari tangga, tapi tidak ada tangga disini. 

Aku ingin mangganya!

Nekat, aku memanjati tiang di dekatku, lalu dengan cekatan menarik tubuhku ke atas. Aku mengambil mangganya dengan sangat senang, tapi aku mendengar suara televisi dan sebuah keluarga tertawa dari arah dalam. Karena panik aku langsung turun dari lantai dua dan bergegas pergi dari situ.

Saat setengah nyengir bangga karena berhasil lari, aku sadar.

Mangga-manggaku tinggal.
            
Sekarang aku berada di sebuah taman yang sangat luas. Jalan setapaknya namun, sangat kecil. Aku tetap berjalan sambil bertanya-tanya dimana jalan kecil ini akan bermuara. 

Ternyata sebuah gazebo mungil ada di ujung taman. Di sebelahnya adalah pagar dari besi yang membatasi taman dengan jalan raya. Aku duduk-duduk di gazebo sambil melihat-lihat taman, tiba seseorang datang dengan sepeda merah kecil. Rambut orang itu kribo dan sepertinya ia memakai seragam jasa pengiriman barang. 

"Permisi nona, ada kiriman," ia memberiku sebuah bungkusan. "Tapi aku bukan penghuni rumah ini," aku menatapnya bingung. "Aku tahu, maka dari itu aku memberikannya kepadamu," ia lalu berlalu.

"Apa seorang pengantar paket datang?" aku menatap ke belakangku dengan terkejut. Ternyata teman sekelasku yang berambut keriting. Aku mengangguk dan menyodorkan bungkusannya. "Apakah ini punyamu?" 

Ia mengambil bingkisan itu. "Tidak, rumah ini rumah kontrakan. Ini milik yang punya rumah." Aku sebenarnya tidak mengerti, tapi aku mengangguk saja. "Apa pestanya sudah mulai?" tanyaku.

"Belum, jalan-jalan lah dulu. Rumah ini sangat luas."

Aku pun berjalan-jalan lagi.
            
Aku membuka pintu-pintu ruangan rumah itu mencari seseorang. Mungkin yang lain juga sedang berjalan-jalan sama seperti diriku. Ruangan pertama sangat sempit, hanya ada tempat tidur kecil dengan seprei putih polos. Ruangan kedua sangat besar, ada sebuah tempat tidur besar dengan seprei mewah. Ruangan ketiga kosong. Ruangan keempat dikunci.

Rumah ini aneh sekali, dimana sih orang-orang?

Aku harap Siwy disini, pikirku sambil terduduk. Atau bahkan Jessica.

                                 Kemudian aku terbangun di sebuah kamar oranye.


Hahahahahahahahahahaha, ini tadi mimpi saya semalam. Saya mimpi pindah ke Jakarta, tapi sekolah dan lingkungannya aneh sekali. Tentu saja cerita di atas tidak sepenuhnya benar mimpi saya, karena terkadang di dalam mimpi kita melupakan mengingat detail. Kata Tami mimpi saya seperti wonderland. Tapi hal yang paling aneh adalah, kenapa Siwy dan Tasya ada di sana? Siapa juga Jessica ini. =''=

2 komentar:

  1. whoa... demi apa pun mimpi kau keren nian nur,kyk cerita apa gitu, bisa di sambung nggak mimpinya ^0^

    BalasHapus
  2. hahahahahaha, mimpi aku ado kaunyo wy - -''
    pengennyo sih, aku penasaran dengan pestanyo. kok kau dak datang-datang yo ke pesta tu. aku kesepian

    BalasHapus