Selasa, 17 Juli 2012

Upik Kirana

Pada suatu hari, di suatu negeri, hiduplah seorang duda yang kaya raya bersama anak gadisnya. Duda itu setiap harinya sangat sibuk sehingga tidak bisa menemani putrinya bermain. Karena mengkhawatirkan putrinya yang tidak memiliki figur seorang ibu dan teman untuk bermain, duda itu menikahi seorang janda yang memiliki 2 putri. Duda itu berharap, istri baru dan kedua anaknya dapat menghilangkan kesepian putrinya.

Namun, tak lama kemudian duda itu jatuh sakit. Putrinya yang malang setiap harinya berdo'a untuk keselamatan sang duda. Namun, walau telah meminum obat dari dokter dan dirawat dengan dokter terbaik di seluruh negeri, sang duda tak kunjung sembuh, malahan penyakitnya tambah parah. Suatu hari, ketika putri kandung dari sang duda hendak memberi makan hewan-hewan ternak di belakang rumah mereka, ia melihat ibu tirinya membuang obat ayahnya dan menggantinya dengan cairan yang mencurigakan.

Putri kandung sang duda diam-diam membeli obat ayahnya dan menggantikan cairan mencurigakan dengan obat yang asli. Tak lama kemudian, sang duda sehat kembali. Selama ia sakit, ia menyadari betapa berharga putrinya yang telah dengan setia selalu menunggui dan merawatnya. Tidak sekalipun istri barunya atau kedua anak tirinya mengunjungi dirinya saat dirinya sakit.

Sang duda segera menganakemaskan putri kandungnya. Ia memberikan segala yang indah kepada putrinya itu. Perhiasan yang cantik, gaun yang cantik, sisir rambut yang cantik, sepatu yang cantik, hingga putri kandungnya itu selalu diselimuti keindahan. Karena selalu diselimuti keindahan, orang-orang mulai memanggil putrinya Upik Kirana (Kirana ; elok ; indah ; laksmi ; cantik).

Upik Kirana, walaupun dibanjiri pujian atas kecantikannya, tidak pernah menjadi sombong. Ia tetaplah gadis baik hati yang sangat menyayangi ayahnya.

Tiba-tiba, datanglah undangan pesta dari istana. Putra Mahkota hendak mencari calon pendamping dan semua gadis di seluruh negeri diundang ke pesta itu. Semua gadis mengenakan gaun terindah mereka, termasuk juga Upik Kirana.

Upik Kirana pergi ke pesta bersama keluarganya, ayah, ibu dan saudara tirinya. Dengan gaun berwarna merah muda yang ia jahit sendiri, serta sepasang sepatu yang dipilihkan ayah tercinta, ia menjadi salah satu gadis terelok di pesta. Namun, putra mahkota tidak tertarik dengan gadis yang biasa-biasa saja.


'Andai saja ada seorang gadis bergaun biru indah dan mengenakan sepasang sepatu kaca muncul dari sebuah kereta labu' pikir sang putra mahkota.

Upik Kirana menikmati pesta bersama ayahnya, ia berdansa, makan makanan yang enak dan mendapatkan banyak kenalan. Upik juga sempat melihat wajah sang putra mahkota yang tampan, 'andai saja aku dapat berdansa dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya, meski hanya sampai tengah malam nanti' pikirnya sambil tersenyum.

Pesta berakhir dini hari, Upik Kirana pulang dengan hati yang bahagia dan putra mahkota tidak menemukan gadis impiannya. Beberapa bulan kemudian, putra mahkota menikah dengan seorang putri dari negeri tetangga melalui perjodohan. Semua orang ikut bersuka cita. Upik Kirana pun menikah dengan tangan kanan ayahnya, mereka juga menikah karena dijodohkan.

Sang duda meninggal tak lama setelah pernikahan putrinya dan istri beserta anak tirinya pindah dari rumah Upik Kirana. Upik Kirana hidup bahagia, terkadang agak kesepian, juga banyak berandai-andai dan terus menyesali beberapa hal dalam hidupnya. Namun, ia bahagia juga, memiliki kehidupan yang cukup sempurna  dengan seorang suami yang mencintainya, anak laki-laki yang lincah, calon bayi perempuan dan seekor anjing yang setia.

                        2 ekor tikus mengintip dari celah dinding, mengincar sepotong keju di meja makan rumah keluarga Upik Kirana.

Sabtu, 14 Juli 2012

Bunuh Diri

Kadang, aku berpikir, bagaimana hidupku bila aku terlahir bukan sebagai seorang Nurul Eka Putri.

Nurul Eka Putri, yang seperti ibuku bilang adalah anak yang tidak cantik, tidak pintar dan tidak sempurna namun lebih beruntung dari adik laki-lakinya. Terlahir dengan otak yang lebih mampu berkembang dibanding saudara-saudara di keluarganya.


Aku sering sekali berandai-andai, bagaimana hidupku bila aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki yang tidak memiliki tuntutan apapun. Semakin ditekankan bahwa aku bisa dan adikku tidak bisa, karena itu aku seharusnya berusaha lebih keras, semakin aku berandai menjadi adik laki-lakiku.

Asyik sekali, hidup tanpa tuntutan dan tanpa expectation dari orang-orang di sekeliling kita. "Sebenarnya terserah saja mau jadi apa, tapi kalau nanti tidak sukses jangan menyesal tidak ikut kataku," bukankah kata-kata itu sungguh membebani? 'Setidaknya kalau aku mengikuti ibuku, bila aku tidak bahagia nanti aku tidak harus menyalahkan diriku' pikirku dengan picik saat memilih jalanku ke depan.

Aku selalu dikelilingi perasaan-perasaan yang buruk rupa; iri, cemburu, benci. Bukankah sebagai kakak aku tidak seharusnya merasa seperti itu?

'Kau lebih tua, seharusnya kau lebih dewasa' demikian yang aku dengar, sangking seringnya membuatku muak. Sejak lama aku ingin sekali membalas kata-kata itu, beda umurku dan adikku tidak 5 tahun, hanya 1 setengah tahun. Kalau adikku masih kecil, begitupun aku. Bila aku sudah dewasa, adikku pun tidak jauh di belakang akan menyusulku.


Andai saja Nurul Eka Putri tidak ada, pikirku. Andai saja aku terlahir sabagai adikku. Andai saja saat 27 Desember 1994 itu terlahir gadis sempurna, cantik, jenius, penurut, tidak keras kepala, tidak bebal, tidak busuk hati dari rahim ibuku. Mungkin semuanya akan lebih bahagia, mungkin AKU akan lebih bahagia. 


Kalau saja Nurul Eka Putri tidak sepertiku, atau Nurul Eka Putri itu bukan aku, apakah kau akan lebih bahagia?


(Dengan berpikir seperti ini, apakah aku sudah bunuh diri?)








Selasa, 10 Juli 2012

Sepasang Anting dan Diriku

Aku belajar untuk tidak menggantung seperti sepasang anting lagi.

Mengumpamakan diriku dulu dan sepasang anting, seperti mengumpamakan kaki kiri dan kananku, hampir persis, sayangnya tidak sama. Setiap hari menggelayut, kadang tertutup rambut, sepertinya menambah kepercayaan diri yang kugelayuti, tapi siapa yang tahu? Karena sama seperti sepasang anting, aku menggelayut untuk dilihat, diperhatikan, ditatap cantik dan menjadi tidak sendirian.

-

Aku menolak tinggal di kotak perhiasan lusuh atau di laci penuh manik serta bungkus kosong perhiasan lain. Aku juga mau berjalan-jalan melihat dunia, dipuji dan terkenal, walau sebagai perhiasan. Tidak seperti gelang yang akan dilepas nantinya atau kalung yang hanya tinggal dikaitkan, sepasang anting seperti diriku diborkan sepasang lubang dan digelayutkan di sana agar tidak hilang. Aku dan orang yang kugelayuti (mulai dari sekarang akan disebut sebagai Adelis) bersama hampir setiap waktu.

Adelis menghabiskan banyak waktu, kesabaran dan rasa sakit untuk mengebor sepasang lubang untukku. Ia tidak akan dengan bodohnya melepas anting-antingnya dan membiarkan kedua lubang itu menutup kembali. Adelis akan terus mengenakan diriku, sepasang anting, agar lubang yang telah ia bor dengan penuh air mata dan desis kesakitan itu tidak sia-sia. Sepasang anting adalah perhiasan yang sangat pintar.

Namun, sepasang anting yang tertutup rambut tidak buta, Adelis yang dulu hanya mengenakan satu cincin kini memiliki tiga cincin, ia menggantinya setiap hari. Dua minggu setelah itu Adelis membeli sebuah kalung cantik yang terbuat dari manik, beda dari kalung emas yang sering ia pakai, ia akan memakai kalung manik saat santai dan kalung emas saat formal. Tak beberapa lama kemudian, gelang-gelang kayu besar menggantikan gelang rantai kecil dari perak yang selalu ia pakai di tangan kirinya, namun hari Minggu ia akan menggantinya lagi dengan gelang yang lama.

Begitulah, Adelis banyak membeli perhiasan yang indah-indah.

Setiap Adelis bercermin, aku juga menatap diriku di cermin, bertanya-tanya kapan Adelis akan menggantiku. Mungkin gelang, kalung dan cincin tidak keberatan harus berbagi Adelis dengan perhiasan-perhiasan baru, tapi aku tidak mau meninggalkan tempatku, di kedua telinga Adelis, dekat dengan wajahnya, tinggi dari perhiasan-perhiasan lain. Disini, di tempatku, aku merasa aman dan angkuh. Tak ada yang bisa menyentuhku kecuali jari-jari mungil Adelis.

Setiap hari aku gelisah, aku menolak melihat cermin lagi dan bersembunyi di balik rambut ketika Adelis pergi keluar rumah.

Sampai suatu malam aku merenung. Renunganku lama sekali, ayam-ayam berkokok pukul 2 pagi dan aku masih merenung. Pukul 4 pagi, aku menyerah, bertahan di singgasana ini hanya membuatku sakit setiap harinya. Karena aku sepasang anting, aku tidak mungkin menangis, perhiasan tidak boleh menangis, kami seharusnya membuat orang-orang seperti Adelis tampak lebih berkilau, menangis mengacaukan kilauannya.

Tik tik tik tik tik tik

Aku merayap pelan dari singgasanaku, tempat di dekat Adelis yang kucintai dan kusayangi. Jatuh di kolong tempat tidur yang gelap dan lembab. Mulai menangis meraung-raung, tidak mempedulikan masalah kilaunya lagi. Melupakan diriku sebagai sepasang anting dan hidup tidak menggantung atau menggelayut.

Aku sekarang belajar untuk tidak jadi sepasang anting lagi, atau perhiasan lainnya. Aku belajar untuk menjadi Adelis, dan mengenakan perhiasan lain. Kadang aku merindukan hidupku sebagai sepasang anting ketika mendengar suara Adelis atau melihat dirinya tanpa anting-anting lagi dengan lubang di kedua telinganya yang hampir menutup sempurna.

Namun, Adelis memiliki 3 cincin, 2 kalung dan sebuah gelang perak serta gelang-gelang kayu besar yang menjadi perhiasannya, sepasang anting tidak harus menghiasinya. Lagipula, sebagai permohonan maaf, aku telah membuat lubang di kedua telingaku, namun tanpa sepasang anting. Aku membiarkannya seperti itu, sampai tertutup, lalu melubanginya lagi. Hanya untuk mengingatkan.

Aku bukan anting lagi, Adelis. Aku (pernah) mencintai dirimu.