Selasa, 10 Juli 2012

Sepasang Anting dan Diriku

Aku belajar untuk tidak menggantung seperti sepasang anting lagi.

Mengumpamakan diriku dulu dan sepasang anting, seperti mengumpamakan kaki kiri dan kananku, hampir persis, sayangnya tidak sama. Setiap hari menggelayut, kadang tertutup rambut, sepertinya menambah kepercayaan diri yang kugelayuti, tapi siapa yang tahu? Karena sama seperti sepasang anting, aku menggelayut untuk dilihat, diperhatikan, ditatap cantik dan menjadi tidak sendirian.

-

Aku menolak tinggal di kotak perhiasan lusuh atau di laci penuh manik serta bungkus kosong perhiasan lain. Aku juga mau berjalan-jalan melihat dunia, dipuji dan terkenal, walau sebagai perhiasan. Tidak seperti gelang yang akan dilepas nantinya atau kalung yang hanya tinggal dikaitkan, sepasang anting seperti diriku diborkan sepasang lubang dan digelayutkan di sana agar tidak hilang. Aku dan orang yang kugelayuti (mulai dari sekarang akan disebut sebagai Adelis) bersama hampir setiap waktu.

Adelis menghabiskan banyak waktu, kesabaran dan rasa sakit untuk mengebor sepasang lubang untukku. Ia tidak akan dengan bodohnya melepas anting-antingnya dan membiarkan kedua lubang itu menutup kembali. Adelis akan terus mengenakan diriku, sepasang anting, agar lubang yang telah ia bor dengan penuh air mata dan desis kesakitan itu tidak sia-sia. Sepasang anting adalah perhiasan yang sangat pintar.

Namun, sepasang anting yang tertutup rambut tidak buta, Adelis yang dulu hanya mengenakan satu cincin kini memiliki tiga cincin, ia menggantinya setiap hari. Dua minggu setelah itu Adelis membeli sebuah kalung cantik yang terbuat dari manik, beda dari kalung emas yang sering ia pakai, ia akan memakai kalung manik saat santai dan kalung emas saat formal. Tak beberapa lama kemudian, gelang-gelang kayu besar menggantikan gelang rantai kecil dari perak yang selalu ia pakai di tangan kirinya, namun hari Minggu ia akan menggantinya lagi dengan gelang yang lama.

Begitulah, Adelis banyak membeli perhiasan yang indah-indah.

Setiap Adelis bercermin, aku juga menatap diriku di cermin, bertanya-tanya kapan Adelis akan menggantiku. Mungkin gelang, kalung dan cincin tidak keberatan harus berbagi Adelis dengan perhiasan-perhiasan baru, tapi aku tidak mau meninggalkan tempatku, di kedua telinga Adelis, dekat dengan wajahnya, tinggi dari perhiasan-perhiasan lain. Disini, di tempatku, aku merasa aman dan angkuh. Tak ada yang bisa menyentuhku kecuali jari-jari mungil Adelis.

Setiap hari aku gelisah, aku menolak melihat cermin lagi dan bersembunyi di balik rambut ketika Adelis pergi keluar rumah.

Sampai suatu malam aku merenung. Renunganku lama sekali, ayam-ayam berkokok pukul 2 pagi dan aku masih merenung. Pukul 4 pagi, aku menyerah, bertahan di singgasana ini hanya membuatku sakit setiap harinya. Karena aku sepasang anting, aku tidak mungkin menangis, perhiasan tidak boleh menangis, kami seharusnya membuat orang-orang seperti Adelis tampak lebih berkilau, menangis mengacaukan kilauannya.

Tik tik tik tik tik tik

Aku merayap pelan dari singgasanaku, tempat di dekat Adelis yang kucintai dan kusayangi. Jatuh di kolong tempat tidur yang gelap dan lembab. Mulai menangis meraung-raung, tidak mempedulikan masalah kilaunya lagi. Melupakan diriku sebagai sepasang anting dan hidup tidak menggantung atau menggelayut.

Aku sekarang belajar untuk tidak jadi sepasang anting lagi, atau perhiasan lainnya. Aku belajar untuk menjadi Adelis, dan mengenakan perhiasan lain. Kadang aku merindukan hidupku sebagai sepasang anting ketika mendengar suara Adelis atau melihat dirinya tanpa anting-anting lagi dengan lubang di kedua telinganya yang hampir menutup sempurna.

Namun, Adelis memiliki 3 cincin, 2 kalung dan sebuah gelang perak serta gelang-gelang kayu besar yang menjadi perhiasannya, sepasang anting tidak harus menghiasinya. Lagipula, sebagai permohonan maaf, aku telah membuat lubang di kedua telingaku, namun tanpa sepasang anting. Aku membiarkannya seperti itu, sampai tertutup, lalu melubanginya lagi. Hanya untuk mengingatkan.

Aku bukan anting lagi, Adelis. Aku (pernah) mencintai dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar