Selasa, 17 September 2013

newest blog

http://tidakpernahada.blogspot.com/ blog terbaru saya, rencananya blog privasi buat ngatain orang eh, tulisannya jadi melodramatis gini. wakakakakakak, sek, yang mau follow ntar saya follow balik. berasa main twitter.

Sabtu, 20 Juli 2013

Masalah

Kita punya masalah masing-masing.

Apakah uang, gengsi, mimpi, restu, mampu, dan tidak.

Aku juga punya masalah, seperti seekor tikus yang akan mati bila tidak cepat kabur dari sudut restoran yang dihuni kucing atau seperti kucing yang akan ditendang bila tidak cepat menangkap si tikus. Hidup ini kejam, tanpa pengecualian.

Aku ingin juga punya sayap dan hati yang mantap, lalu terbang dan tidak kembali. Tapi ada rantai yang aku ikat sendiri di pergelangan tanganku, di kedua kakiku, di leherku, di tenggorokanku, di lidahku.

Aku tidak dengar tapi aku lihat, karena tidak ada yang bisa memasang rantai di kedua bola mata mereka.

Ibuku punya masalah, ayahku punya masalah, adikku punya masalah, kawanku punya masalah, orang asing punya masalah, gadis kecil punya masalah.

Aku juga punya.

Masalahnya adalah, aku.(dan rantai-rantai yang kuikat).

Minggu, 09 Juni 2013

Sang Katak yang Bahagia

Seekor katak melompat gembira di atas teratai-teratai yang sedang berbunga. Ia memutar tubuhnya sesekali sambil mendendangkan irama yang sama ceria dengan senyumnya. Seekor lalat tersangkut di sebuah jaring laba-laba di ranting dekat teratai sang katak berada, lalat itu diam tak berdaya menunggu ajalnya.

Sang katak yang sedang bahagia melompat tinggi ke atas ranting dan melepaskan lalat itu, 'tidak ada yang boleh bersedih di hari yang bahagia!' Sang lalat menatap punggung katak yang berlalu, katak itu terus melompat di antara teratai yang indah.

Di tempat lain seekor ular tersangkut di pagar tajam yang terbuat dari kawat, sang katak yang sedang bahagia segera menghampirinya. Sang ular yang mengira akan diejek dan dipermalukan oleh sang katak mendesis. Namun, sang katak yang bahagia tidak takut apapun, lalu pergi ke balakang sang ular dan menarik  ekornya pelan-pelan. Sang ular mulai bisa bernafas dan berbalik ingin berterimakasih, namun sang katak telah pergi dengan riangnya.

Di bawah pohon yang rindang, seekor anak burung jatuh dari sarangnya. Sang katak yang bahagia menemukan anak burung yang malang itu lalu menggendongnya. Ia memanjat pohon itu dengan susah payah, meloncat dari ranting ke ranting. Ketika sampai di ranting tempat sarang si anak burung berada, ia berhenti dan meletakkan anak burung itu disitu, 'tidak ada yang boleh bersedih ketika aku bahagia!' Lalu ia menuruni pohon itu dan melompat lagi entah kemana.

Di tengah sebuah taman, sebatang bunga hidup sendirian. Warna bunga itu sangat muram dan ia tidak tersenyum seperti biasanya, daun-daunnya kering dan batangnya tidak segagah biasanya. Sang katak yang bahagia cepat-cepat melompat menuju sungai dan mengambil air sebanyak-banyaknya melalui mulutnya dan membawanya ke taman itu. Ia menyirami sang bunga dengan hati-hati, sang bunga perlahan berdiri agak tegak dan bernafas lega. Sang katak yang bahagia melompat menjauh lagi.

Saat senja tiba, sang katak menatap langit yang warnanya oranye dengan wajah bangga. Lalat yang ia selamatkan tadi menghampirinya dengan takut-takut lalu hinggap di daun dekat sang katak. Sang katak yang bahagia tersenyum kepada lalat dan menunjuk langit.

'Mengapa kau bahagia sekali hari ini katak?' Tanya lalat penasaran. Sang katak tidak menjawab dan terus menatap langit, lalat mengira sang katak tidak mendengarnya, jadi ia diam saja. Setelah langit menjadi gelap ia menatap lalat dan berkata, 'karena kita menjadi baik ketika kita bahagia'. Sang katak melompat gembira, 

'jadi aku membahagiakan diriku!'

(Perfectionist Complex - Megurine Luka)

Bila hidup dan tidak hidup itu sama.

Di dalam hidup, tidak ada yang sempurna dan begitu juga di dalam tidak hidup, karena tidak ada yang benar-benar sempurna (kecuali Tuhan, satu-satunya yang memiliki nilai sesungguhnya). Tidak ada yang memiliki nilai sesungguhnya (kecuali Tuhan yang memiliki kesempurnaan seutuhnya).

Manusia hanya jutaan manusia lain, tertawa, menangis, tidak ada bedanya. Warnanya sama dan suaranya sama, bila dilihat oleh bintang-bintang di atas sana, tidak ada bedanya. Ketika bahagia atau bersedih, ketika mereka iri atau membenci, ketika mereka menolong seekor kucing kecil atau memeluk anak-anaknya.

Bila mati tidak ada artinya. Karena hidup pun tidak ada artinya.

Karena manusia itu sungguh dipenuhi ketidakstabilan, mereka sama, tapi terus bersikeras berubah. Mereka dipenuhi kebaikan lalu kejahatan, mereka tersenyum lalu meraung, bukankah mereka sebuah lelucon?

Tapi Tuhan (yang memiliki arti dan kesempurnaan) mungkin menginginkan ketidaksempurnaan sebagai manusia.

Bahwa, tawa, tangis, marah, iri, dengki itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan. Sebuah ketidaksempurnaan yang Tuhan ciptakan sebagai kesempurnaan.

Jadi kau boleh menjadi tidak sempurna, kau boleh menangis sebebasnya, tapi tidak menangis selamanya. Bila kau sama saja, tertawa saja tiba-tiba, mungkin bintang-bintang akan menganggapmu berbeda. Bila kau menganggap dirimu adalah lelucon, taklukan saja dunia, mungkin tidak akan ada yang tertawa. Bila kau tidak sempurna, teruskan saja dirimu, mungkin kau telah menjadi sempurna.

Bila hidup dan tidak hidup itu sama, jalani saja hidupmu dulu.

Mungkin mereka ada artinya.

Sabtu, 01 Juni 2013

kita sama-sama tidak mengerti apa-apa

Mengerti apa kau tentang cinta?

Kau merengek saja kerjanya. Mengumbar keluh kasih ke seluruh dunia. Mengumbar kesepian akan cinta ke seluruh orang yang ada. Kerjamu hanya mengumbar saja. Kata-kata cinta terucap seperti kau tahu rasanya saja. Kau menyadari keberadaannya saja tidak bisa.

Mengerti apa kau tentang wanita?

Kau hanya berfantasi kotor saja. Kau anggap mereka itu hanya yang cantik-cantik saja, yang bagus-bagus saja, yang bisa kau pandangi saja, yang bisa kau pegang-pegang saja. Kau anggap wanita itu yang bisa kau jadikan kekasih saja.

Mengerti apa kau tentang dunia?

Kau makan saja pakai uang orang lain. Pakaian yang gedongan bukan main kau pamerkan itu tidak kau beli dengan keringatmu. Mobil dan motor yang harganya 6 digit kau pakai berkeliling itu saja masih dibelikan. Rumah yang kau gunakan untuk bersembunyi dari dunia ini juga tidak dituliskan atas namamu.

Tahu apa kau?

Kau tidak tahu apa-apa.

Tidak tentang cinta, yang bergelinang sangking penuhnya ketika kau keluar dari dunia oleh sepasang manusia, yang memberimu nama dengan arti yang luar biasa gagahnya, yang merayakan ulang tahunmu setiap tahun, yang menuntunmu hingga kau berjalan dengan kedua kakimu sendiri, hingga kau lari jauh dari mereka dan tidak pernah menatap ke belakang. Namun, cinta mereka tidak pernah berkurang, sekarang sudah tumpah ruah, jatuh menyucur, terus mengalir dan tidak berhenti. Sambil melihat punggungmu yang semakin menjauh itu.

Tidak tentang wanita, yang hanya bukan yang muda saja. Bahwa ibu, bibi, nenek, adik atau kakakmu juga adalah wanita. Yang seharusnya kau jaga perasaannya seperti kekasih-kekasihmu juga. Yang seharusnya kau temani berjalan-jalan seperti wanita-wanitamu juga. Yang seharusnya kau ucapkan selamat tidur setiap malam seperti mereka yang cinta.

Tidak tentang dunia, yang sangking kejamnya bisa membunuhmu dalam kedipan detik saja. Bahwa kau, dan semua urusanmu dan permasalahanmu yang kau anggap penting, hanya seutil debu di dunia. Bahwa di luar sana, orang-orang direnggut darah dagingnya, diperkosa, tinggal tengkorak saja, dan dipatoki oleh burung pemakan bangkai. Kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, kecuali bagi mereka yang mecintaimu dengan buta.

Terima saja, kau tidak mengerti apa-apa, seperti aku juga.

Aku sedang meniti sebuah tali, tanpa pegangan dan tanpa do'a dari orang yang kukasihi. Aku tidak peduli dengan cemoohan tapi ridha membuat lututku lemas dan bibirku gemetar. Ujung tali seharusnya sudah terlihat, tapi kenapa aku belum bisa melihatnya? 

Apakah karena memang tidak ada apa-apa di ujung tali ini? Atau hanya kerisauanku?

Aku goyah.

Aku ingin terjun saja ke bawah dan melupakan penitian ini. 

Aku gundah sekali.

Aku hanya menginginkan sebuah ridha, atas diriku, atas kemampuanku, atas ketidaksempurnaanku, atas keinginanku. Aku hanya ingin sebuah ridha darimu. Aku bukan anak kawanmu, bukan anak bosmu, aku bukan anak kawan kakakmu... Aku anakmu. 

Aku mencintaimu, aku tahu kau mencintaiku juga. Tapi, tak bisakah aku memimpikan sendiri ujung dari tali ini? Haruskah aku dibisiki dengan halus dan suara gemetar, seolah aku sedang memakimu dengan teriakan kasar? 

Aku sedang meniti sebuah tali, tanpa pegangan dan tanpa do'amu. Aku tidak dengar teriakan yang menyuruhku untuk terus saja berjalan sampai aku menemukan ujung taliku, tali pilihanku. 

Aku seperti durhaka.

Aku seperti membuatmu terluka.

"Ini hidupmu, untuk apa kau pikirkan mereka?" kata mereka.

Aku anaknya. Darah dagingnya. Bila suatu hari ia menyumpahiku celaka, aku yakin, celakalah aku. Bila suatu hari aku membuatnya menangis, aku yakin, maka Tuhan melaknatku. 

Aku mencintaimu, sungguh, dari lubuk hatiku yang paling dalam. 

Tapi aku butuh kau menerimaku, dengan segala kekuranganku, dengan segala sisi kemanusiaanku, dengan segala keputusan kekanakanku.

Aku butuh do'amu, restumu, ridhamu.

Aku membutuhkanmu.

Selasa, 23 April 2013

Aku lelah. Aku ingin teriak dan tertawa kencang. Aku ingin bernafas. Aku ingin melompat. Aku ingin rumah.

Jumat, 19 April 2013

Berpisahlah Sambil Tertawa

Berpisahlah sambil tertawa.

-

Dengan penuh kebahagiaan dan canda, seperti hari-hari biasanya. Seperti jam-jam pelajaran kosong  yang kita lalui bersama. Anggap saja pentas itu adalah sudut kelas, dimana kita meyanyikan lagu-lagu ceria. Anggap saja guru-guru yang duduk di depanmu ada di depan kelas, menunggu kita menyelesaikan soal atau tugas yang diberikannya, lalu suatu saat akan memeriksanya dan dengan bangga mengatakan bahwa 'kau bisa'. Anggap saja kita akan menghadapi liburan panjang, dengan ribuan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

-

Air mata kita iringi saja dengan tertawa. Dengan guyonan tidak lucu yang bersikeras kita tertawakan di depan kelas. Dengan cerita-cerita seru yang kita gosipkan saat bosan di tengah pelajaran. Dengan senyum yang sangat lebar saat kita berpapasan di koridor sekolah.

-

Ingat saja janji-janji kita, untuk berkumpul kembali suatu hari nanti dan memamerkan pekerjaan rumah dari libur panjang masa SMA yang telah kita kerjakan. Ingat saja bahwa ini adalah awal dari petualangan yang panjang. Solo karir kita. Bersama do'a-do'a dariku dan kawan-kawan lainnya.

-

Ya, anggap saja seperti itu. Walau kau ingin meraung dan kembali ke masa-masa itu. Walau ada sedikit kesedihan yang tidak terselamatkan. Berpisahlah sambil tertawa, dengan ceria, dengan bahagia, dengan sedikit saja air mata.

Karena aku memang mencintaimu.

Hahahahahaha. Aku sangat mencintaimu.








Sabtu, 06 April 2013

Aku Ingin...

Aku ingin jadi suara yang tak akan pernah dilupakan.

Seperti suara letusan gunung merapi yang akan selalu dikenang orang-orang yang mendengarnya, atau seperti suara ombak berdesir yang sulit dilupakan para pujangga. Aku ingin jadi suara-suara yang akan diingat setelahnya, seperti suara teriakan seorang Ibu yang memarahi anaknya atas cinta, atau suara adzan yang berkumandang gagah.

Aku ingin jadi angin yang berhembus di sore hari.

Setelah terik matahari di siang hari, menghapus gerah, menemani matahari yang bersinar malu-malu. Aku ingin jadi angin yang menghembus kerangka layangan yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik di depan rumahku, angin yang meniup tanaman-tanaman hias di depan rumah ibu-ibu yang rajin berkebun.

Aku ingin jadi semut yang tidak akan pernah lelah mencoba menjelajahi dunia.

Terus, terus tanpa lelah bergerak kesana kemari. Tanpa bosan berjalan-jalan mencari makanan. Memutar jalan saat menemui kesulitan dan tidak akan kembali hingga membawa sesuatu di pundaknya yang kecil. Aku ingin jadi semut yang menyapa satu sama lain ketika bertemu, yang membawa kawannya yang kakinya patah ke dalam sarang.

Aku ingin jadi sebatang lilin dilaci dapur rumahku.

Lilin putih yang akan dihidupkan dalam kegelapan yang menyesakkan, saat matahari tidak dalam masa jaganya dan lampu yang biasanya menggantikan mati. Aku ingin jadi lilin yang menghabiskan hidupnya sedikit demi sedikit menyinari orang-orang disekitarku, yang cahayanya tidak terlalu terang, yang terasa semakin dibutuhkan saat cahayanya hilang.

Aku ingin jadi seekor salmon sungai betina yang mengorbankan dirinya hanya untuk membuat sarang dan menaruh telur-telurnya di sana.

Aku ingin jadi seekor buaya yang hanya kawin kepada satu buaya saja.

Aku ingin jadi seekor singa betina yang berburu untuk anak-anaknya.

Aku ingin jadi sebatang pohon yang menyaksikan dunia dengan bijaksana.

Aku ingin jadi dedaunan yang warnanya hijau, agar tumbuhan di bawahnya mendapatkan sinar matahari juga.

Aku ingin jadi atap rumah yang melindungi orang-orang di dalamnya.

Aku ingin jadi awan yang berkelana jauh hingga menghilang menjadi hujan.

Aku ingin jadi seseorang yang mencintai banyak hal. Aku ingin jadi banyak hal. Aku ingin menggapai semuanya dan menjadi manusia yang bahagia, tidak sempurna dirinya, tapi kehidupannya dengan segala ketidaksempurnaannya.

Amin.

Kamis, 04 April 2013

Aku percaya Tuhan itu Maha Melihat, tapi aku tidak percaya Tuhan memiliki bentuk mata yang sama seperti manusia. 


Jumat, 15 Maret 2013

Antara Dirimu dan Mereka

Wajahmu bagiku sama saja!

Sama-sama tidak dapat kulihat dengan jelas tanpa kacamata. Sama-sama tidak pernah kuhiraukan lebih jauh. Sama-sama ribuan orang lain yang berpapasan denganku selama 18 tahun 3 bulan hidupku ini. Tidak ada yang akan membuatku jatuh cinta atau bahagia. Atau membuatku nyaman dan tak mau melepasmu.

Aku tidak suka ketidakpastian. Wajahmu itu tidak akan merubah apa yang kutakutkan. Tidak akan merubah kepengecutan yang tumbuh dalam diriku. Kau tidak akan bisa menangkapku!

Aku tidak akan bisa menangkapmu.

Makanya aku lari. Lari jauh sekali. Aku cari wajah-wajah lainnya. Tapi wajah mereka sama saja. Tidak berbeda denganmu. Hanya mereka tidak membuatku takut. Karena kami tidak pernah menelanjangi satu sama lain. Aku merasa aman. Aku juga tidak sendirian.

Matamu itu sama saja! Bibirmu itu sama saja! Senyummu itu sama saja! Hanya senyummu agak berbeda dengan mereka, atau tawamu lebih berbeda, dan kalian secara keseluruhan benar-benar berbeda. Bisikan kalian berbeda. Bicara kalian berbeda. Telapak tangan kalian berbeda.

Wajahmu itu sama saja!

Sama dengan ribuan orang lainnya. Jadi jangan tatap aku seperti itu. Jangan buat aku takut seperti itu. Karena sebenarnya kalian tetap saja berbeda. Walau, tentu saja, wajah dan mata dan bibirnya sama saja.

Sama-sama tidak penting bagiku.

Minggu, 10 Maret 2013

Perjalanannya yang Panjang

Seorang gadis berjalan sendirian.

Di jalan yang gelap dan tak terlihat ujungnya.

Kakinya tak beralas dan baju terusannya terlalu tipis.

Kadang ia duduk di pinggir jalan, terlalu letih dan kakinya sakit. Kadang ia berlari karena ia letih berjalan. Kadang ia hanya diam di tempat, tak tahu apa yang harus diperbuat.

"Kemana?"

Ia ingin bertanya. Ia ingin meraung. Ia ingin mengeluh.

Sesekali, ia menemukan lampu jalan yang redup, lampu yang sangat tinggi, lampu jalan yang warnanya oranye.

"Aku ingin matahari!"

Suatu hari ia meminta. Namun, jalannya gelap juga. Gemerlap kecil saja tidak ada. Hanya lampu jalan yang sangat jarang.

Ia duduk di pinggir jalan, di bawah lampu jalan yang temaram.

Oh, kesunyian yang sangat berisik.

Oh, kegelapan yang sangat terang.

Ia ingin tidur, ingin melupakan, ingin bermimpi. Namun, semuanya terlalu berisik, terlalu terang, menyesakkan. Jadi ia berdiri. Berjalan lagi dengan gagah. Menghadapi jalan di depannya.

"Aku ingin pulang!"

Suatu hari ia menangis. Namun, ia terlalu jauh untuk pulang. Sangat jauh sampai ia lupa dari mana ia mulai. Dimana saja ia berbelok. Ia sangat, sangat jauh dari rumah. Terlalu jauh untuk kembali.

Terlalu jauh untuk mengenal rumah. Terlalu jauh untuk mengingat rumah.

Apa itu rumah?

"Aku kesepian."

Akhirnya ia menyadari ; bahwa tangan kanannya hampa dan langkah kakinya sendirian. Berandai mengapa tuhan menciptakan dirinya dengan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, sepasang kaki. Ramai sekali tubuhnya.

Ramai sekali, padahal ia sendirian.

Dan kesepian.

"Aku letih."

Kata terakhirnya sebelum berhenti berjalan dan berbaring di tengah jalan yang gelap. Sedikit lagi berjalan, ada sebuah lampu jalan di depan.

Langit di atas masih gelap. Namun, ada sebuah titik kecil yang berkelip di sana.

Ia tutup matanya sebentar.

Ia merasa lebih letih dan mengantuk. Seorang lelaki tua yang berwajah letih duduk di sampingnya, seorang wanita manis berwajah kelabu dan lelaki tampan dengan bahu yang lebar bersimpuh. Dinding ruangannya berwarna putih. Ada suara lucu yang sesekali berbunyi, semakin lama bunyinya makin jauh. Namun, ia diam saja, ia hanya bisa tersenyum saja, karena tangan kanannya yang hampa terasa hangat. Dan ia (tangan kanannya) tidak sendirian.

Ia membuka matanya, ada titik kecil lagi di sebelah titik tadi. Ia tutup matanya sekali lagi.

Ia merasa lebih pendek, lebih kecil, lebih tak berdaya, namun lebih hidup. Seorang wanita cantik yang anggun mengusap kepalanya. Lelaki di sebelahnya, dengan mata sayu, merentangkan kedua lengannya. "Ijaklah bahu kami," kata lelaki itu. "Ijaklah kepala kami," lanjutnya lagi. "Naiklah ke atas langit yang gelap itu sayang," ia mengangkat gadis itu tinggi. "Ambilah bintang yang kau mau."

"Ah."

Ia tidak ingin membuka matanya lagi. Ia sudah memiliki 2 bintang. Ia sudah sangat jauh, rasanya tidak apa-apa kalau ia tidur dan bermimpi.

"Rumah."