Minggu, 10 Maret 2013

Perjalanannya yang Panjang

Seorang gadis berjalan sendirian.

Di jalan yang gelap dan tak terlihat ujungnya.

Kakinya tak beralas dan baju terusannya terlalu tipis.

Kadang ia duduk di pinggir jalan, terlalu letih dan kakinya sakit. Kadang ia berlari karena ia letih berjalan. Kadang ia hanya diam di tempat, tak tahu apa yang harus diperbuat.

"Kemana?"

Ia ingin bertanya. Ia ingin meraung. Ia ingin mengeluh.

Sesekali, ia menemukan lampu jalan yang redup, lampu yang sangat tinggi, lampu jalan yang warnanya oranye.

"Aku ingin matahari!"

Suatu hari ia meminta. Namun, jalannya gelap juga. Gemerlap kecil saja tidak ada. Hanya lampu jalan yang sangat jarang.

Ia duduk di pinggir jalan, di bawah lampu jalan yang temaram.

Oh, kesunyian yang sangat berisik.

Oh, kegelapan yang sangat terang.

Ia ingin tidur, ingin melupakan, ingin bermimpi. Namun, semuanya terlalu berisik, terlalu terang, menyesakkan. Jadi ia berdiri. Berjalan lagi dengan gagah. Menghadapi jalan di depannya.

"Aku ingin pulang!"

Suatu hari ia menangis. Namun, ia terlalu jauh untuk pulang. Sangat jauh sampai ia lupa dari mana ia mulai. Dimana saja ia berbelok. Ia sangat, sangat jauh dari rumah. Terlalu jauh untuk kembali.

Terlalu jauh untuk mengenal rumah. Terlalu jauh untuk mengingat rumah.

Apa itu rumah?

"Aku kesepian."

Akhirnya ia menyadari ; bahwa tangan kanannya hampa dan langkah kakinya sendirian. Berandai mengapa tuhan menciptakan dirinya dengan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, sepasang kaki. Ramai sekali tubuhnya.

Ramai sekali, padahal ia sendirian.

Dan kesepian.

"Aku letih."

Kata terakhirnya sebelum berhenti berjalan dan berbaring di tengah jalan yang gelap. Sedikit lagi berjalan, ada sebuah lampu jalan di depan.

Langit di atas masih gelap. Namun, ada sebuah titik kecil yang berkelip di sana.

Ia tutup matanya sebentar.

Ia merasa lebih letih dan mengantuk. Seorang lelaki tua yang berwajah letih duduk di sampingnya, seorang wanita manis berwajah kelabu dan lelaki tampan dengan bahu yang lebar bersimpuh. Dinding ruangannya berwarna putih. Ada suara lucu yang sesekali berbunyi, semakin lama bunyinya makin jauh. Namun, ia diam saja, ia hanya bisa tersenyum saja, karena tangan kanannya yang hampa terasa hangat. Dan ia (tangan kanannya) tidak sendirian.

Ia membuka matanya, ada titik kecil lagi di sebelah titik tadi. Ia tutup matanya sekali lagi.

Ia merasa lebih pendek, lebih kecil, lebih tak berdaya, namun lebih hidup. Seorang wanita cantik yang anggun mengusap kepalanya. Lelaki di sebelahnya, dengan mata sayu, merentangkan kedua lengannya. "Ijaklah bahu kami," kata lelaki itu. "Ijaklah kepala kami," lanjutnya lagi. "Naiklah ke atas langit yang gelap itu sayang," ia mengangkat gadis itu tinggi. "Ambilah bintang yang kau mau."

"Ah."

Ia tidak ingin membuka matanya lagi. Ia sudah memiliki 2 bintang. Ia sudah sangat jauh, rasanya tidak apa-apa kalau ia tidur dan bermimpi.

"Rumah."

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar