Sabtu, 01 Juni 2013

Aku sedang meniti sebuah tali, tanpa pegangan dan tanpa do'a dari orang yang kukasihi. Aku tidak peduli dengan cemoohan tapi ridha membuat lututku lemas dan bibirku gemetar. Ujung tali seharusnya sudah terlihat, tapi kenapa aku belum bisa melihatnya? 

Apakah karena memang tidak ada apa-apa di ujung tali ini? Atau hanya kerisauanku?

Aku goyah.

Aku ingin terjun saja ke bawah dan melupakan penitian ini. 

Aku gundah sekali.

Aku hanya menginginkan sebuah ridha, atas diriku, atas kemampuanku, atas ketidaksempurnaanku, atas keinginanku. Aku hanya ingin sebuah ridha darimu. Aku bukan anak kawanmu, bukan anak bosmu, aku bukan anak kawan kakakmu... Aku anakmu. 

Aku mencintaimu, aku tahu kau mencintaiku juga. Tapi, tak bisakah aku memimpikan sendiri ujung dari tali ini? Haruskah aku dibisiki dengan halus dan suara gemetar, seolah aku sedang memakimu dengan teriakan kasar? 

Aku sedang meniti sebuah tali, tanpa pegangan dan tanpa do'amu. Aku tidak dengar teriakan yang menyuruhku untuk terus saja berjalan sampai aku menemukan ujung taliku, tali pilihanku. 

Aku seperti durhaka.

Aku seperti membuatmu terluka.

"Ini hidupmu, untuk apa kau pikirkan mereka?" kata mereka.

Aku anaknya. Darah dagingnya. Bila suatu hari ia menyumpahiku celaka, aku yakin, celakalah aku. Bila suatu hari aku membuatnya menangis, aku yakin, maka Tuhan melaknatku. 

Aku mencintaimu, sungguh, dari lubuk hatiku yang paling dalam. 

Tapi aku butuh kau menerimaku, dengan segala kekuranganku, dengan segala sisi kemanusiaanku, dengan segala keputusan kekanakanku.

Aku butuh do'amu, restumu, ridhamu.

Aku membutuhkanmu.

1 komentar: