Minggu, 09 Juni 2013

(Perfectionist Complex - Megurine Luka)

Bila hidup dan tidak hidup itu sama.

Di dalam hidup, tidak ada yang sempurna dan begitu juga di dalam tidak hidup, karena tidak ada yang benar-benar sempurna (kecuali Tuhan, satu-satunya yang memiliki nilai sesungguhnya). Tidak ada yang memiliki nilai sesungguhnya (kecuali Tuhan yang memiliki kesempurnaan seutuhnya).

Manusia hanya jutaan manusia lain, tertawa, menangis, tidak ada bedanya. Warnanya sama dan suaranya sama, bila dilihat oleh bintang-bintang di atas sana, tidak ada bedanya. Ketika bahagia atau bersedih, ketika mereka iri atau membenci, ketika mereka menolong seekor kucing kecil atau memeluk anak-anaknya.

Bila mati tidak ada artinya. Karena hidup pun tidak ada artinya.

Karena manusia itu sungguh dipenuhi ketidakstabilan, mereka sama, tapi terus bersikeras berubah. Mereka dipenuhi kebaikan lalu kejahatan, mereka tersenyum lalu meraung, bukankah mereka sebuah lelucon?

Tapi Tuhan (yang memiliki arti dan kesempurnaan) mungkin menginginkan ketidaksempurnaan sebagai manusia.

Bahwa, tawa, tangis, marah, iri, dengki itu adalah bagian dari ketidaksempurnaan. Sebuah ketidaksempurnaan yang Tuhan ciptakan sebagai kesempurnaan.

Jadi kau boleh menjadi tidak sempurna, kau boleh menangis sebebasnya, tapi tidak menangis selamanya. Bila kau sama saja, tertawa saja tiba-tiba, mungkin bintang-bintang akan menganggapmu berbeda. Bila kau menganggap dirimu adalah lelucon, taklukan saja dunia, mungkin tidak akan ada yang tertawa. Bila kau tidak sempurna, teruskan saja dirimu, mungkin kau telah menjadi sempurna.

Bila hidup dan tidak hidup itu sama, jalani saja hidupmu dulu.

Mungkin mereka ada artinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar